Menurut pengamat intelijen Dynno Chressbon, merekrut keluarga sendiri sengaja dilakukan untuk menjaga kerahasiaan jaringan teroris.
"Artinya gini mereka selalu merekrut anggota keluarga agar menjaga kerahasiaan. Itu juga sudah menjadi tradisi warisan NII sejak dulu," ujar Dynno kepada detikcom, Rabu (19/8/2009).
Menurut Dynno, mereka langsung merekrut keluarga terdekat tapi dengan syarat tidak boleh ada yang berhubungan dengan bekas polisi dan tentara.
"Mereka juga jarang membaiat kelompok yang pernah berhubungan dengan polisi atau intelijen," tegasnya.
Senada dengan Dynno, pengamat teroris Mardigu WP mengatakan, perekrutan teroris mempunyai satu koneksi. Bisa melalui hubungan persaudaraan, teman kuliah atau teman sesama di Poso seperti Syaifudin yang alumni Poso.
"Kecuali kalau calon pengantin. Itu yang baru mereka kenal terus disuruh bom bunuh diri. Jadi nggak ada sayang-sayangnya," jelas pria yang merupakan orang yang merehabilitasi eks teroris yang sudah dipenjarakan.
(gus/iy)











































