Pengamat terorisme Dynno Chressbon menyatakan, umumnya para perempuan hanya mengikuti langkah suaminya yang terlibat terorisme. Peran mereka mendukung sang suami misalnya menyembunyikan mereka dari kejaran polisi.Β
"Umumnya, mereka lebih banyak bertugas untuk mendampingi suami dalam rangka menyamarkan lokasi persembunyian," jelas Dynno.
Bila pun melibatkan perempuan, jaringan teroris umumnya memberikan peran yang tidak keras. Belum ada perempuan yang kemudian ditugaskan menjadi 'calon pengantin'.
Jaringan Noordin menugaskan perempuan sebagai juru dakwah. Kadang dilibatkan dalam misi-misi intelijen untuk mengumpulkan data atau sebagai pengumpul dana.
"Intinya peran yang tidak terlalu keras layaknya seperti tentara," imbuhnya.
Sementara pengamat teroris yang merehabilitasi eks teroris yang di penjara, Mardigu WP menyatakan para teroris tidak pernah melibatkan perempuan dalam misinya. Alasannya para teroris ini menganut paham superioritas laki-laki.
"Maskulinitas rizal (faham laki-laki). Superior laki-laki. Mereka mengadopsi sistem pro laki-laki itu," kata Mardigu.
(iy/iy)











































