PBNU Minta Berantas Teror Secara Indonesia Bukan Amerika

PBNU Minta Berantas Teror Secara Indonesia Bukan Amerika

- detikNews
Senin, 17 Agu 2009 17:11 WIB
PBNU Minta Berantas Teror Secara Indonesia Bukan Amerika
Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Hasyim Muzadi menilai pemberantasan terorisme di Indonesia tidak bisa hanya dilakukan oleh aparat. Perang terhadap terorisme harus melibatkan partisipasi rakyat melalui gerakan nasional antiterorisme. 

"Untuk memberantas terorisme harus melalui gerakan antiterorisme dengan membangkitkan partisipasi rakyat," kata Hasyim di Gedung PBNU, Jl Kramat Raya, Jakarta Pusat, Senin (17/8).

Menurut Hasyim, ada beberapa aspek penting untuk menangkal terorisme di Indonesia. Pertama, aspek ideologi dan agama. Dalam hal ini, ormas Islam dan tokoh lintas agama harus dilibatkan. "Ini domain NU, Muhamadiyah dan lintas agama. Mereka harus dilibatkan," jelas mantan Ketua PWNU Jatim ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aspek kedua dan ketiga, lanjutnya, pendekatan kewilayahan dan pendekatan intelijen. "Pendekatan kewilayahan ini bisa menjadi domain Depdagri. Karena mereka bergerak di bawah tanah, maka jangan ditempuh di atas tanah. Maka pendekatan intelijen di sini perlu," katanya.

Sedang pendekatan keempat dan kelima, menurut Hasyim, adalah pendekatan keamanan dan pendekatan hukum. "Kelima aspek ini harus digabungkan jadi satu untuk membangkitkan partisipasi rakyat dalam gerakan nasional antiteror," paparnya.

Hasyim mengaku, saat bom Bali I meledak, kelima aspek ini relatif dijalankan oleh pemerintah saat itu. Sebagai Ketua Umum PBNU, ia bersama tokoh Muhammadiyah dan tokoh lintas agama juga dilibatkan turun langsung ke masyarakat. Namun, kini setelah peledakan bom di Mega Kuningan beberapa waktu lalu, partisipasi rakyat tidak dibangkitkan secara maksimal.

"Dulu, saya bersama Pak Hendropriyono (Kepala BIN) Pak As’ad (Wakil Kepala BIN), dengan Pak Da'i Bachtiar (Kapolri), bersama Suryadharma Salim (Mantan Kepala Densus 88) keliling kemana-mana. Saya sendiri sampai tidak terhitung berapa kali menjadi pembicara dalam berbagai forum," katanya.

Menurut Hasyim, menghadapi terorisme dengan kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan dan terorisme baru. "Kalau cara yang dipakai sekarang, tidak akan menyelasaikan masalah. Ujung dari lima aspek yang saya kemukakan itu, adalah hukum. Dalam proses hukum itulah semua dibuka. Membongkar akar teroris yang paling efektif itu di pengadilan," katanya.

Ketika Amrozi cs diproses secara hukum, semua pihak mengacungi jempol aparat penegak hukum di Indonesia. Pujian itu datang baik dari kelompok Timur Tengah garis keras maupun dari Eropa. "Karena ini cara Indonesiawi untuk menghentikan teror, bukan gerakan Amerikani. Kalau gerakan Amerikani sudah dibasmi saja," katanya.

Menanggapi soal penyerbuan teroris di Temanggung, Hasyim mengatakan, cara yang dilakukan polisi untuk menangkap teroris tersebut tidak efektif.”Penyerbuan di Temanggung, ini menurut saya over acting. Nggak usah dibombardir seperti itu. Disemprot dengan gas kan bisa pingsan atau keluar sendiri. Mereka kan sudah terisolir. Kecuali kalau polisi under attack," katanya.

Lebih lanjut, Presiden WCRP ini menjelaskan, ada dua jenis teror di dunia, yaitu teror murni dan teror bagian dari perang. Teror yang terjadi di Indonesia, lanjutnya, murni teror karena terjadi di negara damai. Sedang teror yang merupakan bagian dari perang itu seperti yang terjadi di Israel dan Palestina.

"Teror di Indonesia murni teror. Karena itu, saya berharap ada pembicaraan komprehensif tentang metode pemberantasan terorisme dalam gerakan nasional antiteror, bukan gerakan parsial dengan persepsi masing-masing," pungkasnya.

(yid/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads