"Kebakaran di bulan puasa dan lebaran biasanya meningkat," kata Kepala Suku Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jakarta Barat, Sudjadi kepada wartawan di Jl Pancoran Raya, Glodok, Jakarta Barat, Minggu (16/8/2009).
Sudin Damkar wilayah Jakbar mencatat 192 kasus kebakaran terjadi di tahun 2008. Dari angka tersebut, memakan korban 16 jiwa. Di 5 wilayah, tercatat sedikitnya 800-900 kasus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai upaya dilakukan Dinas Pemadam Kebakaran untuk mencegah terjadinya kebakaran. Salah satu cara dengan melakukan pengawasan bangunan setiap 3 tahun sekali.
"Kita ada pemeriksaan berkala paling maksimal 3 tahun sekali. Itu pencegahan, sekaligus sosialisasi kepada masyarakat dan pengelola gedung," paparnya.
Faktor Kelalaian
Banyaknya angka kebakaran di bulan tersebut, kata dia, diakibatkan karena kelalaian manusia. "Misalnya waktu sahur, lupa matikan kompor," katanya.
Begitu juga pada saat perayaan lebaran. Tidak sedikit si Jago Merah melalap rumah warga saat ditinggal mudik pemiliknya.
"Itu biasanya karena lupa matikan listrik, kabel-kabel masih nempel," ungkapnya.
Sudjadi mengungkapkan, 70 persen kebakaran di wilayah DKI Jakarta diakibatkan korsleting listrik." Sebagian besar, tujuh puluh persen dari listrik," ungkapnya.
Β
Sudjadi melanjutkan, korsleting sendiri diakibatkan oleh kelalain manusia. Misalnya, perawatan kabel listrik atau bangunan yang tidak terpelihara.
"Kalau rumahnya tidak terpelihara, kabel listrik biasanya digigitin tikus, terus kabel yang terbuka itu bisa menyambar menghasilkan percikan api," ucapnya.
Upaya menekan angka kebakaran, dikatakan dia, tidak hanya tanggung jawab petugas pemadam kebakaran. Sudjadi mengimbau, upaya pencegahan, perlu dilakukan sedari dini untuk oleh masyarakat mengurangi angka tersebut.
"Misalnya kalau mau pulang kampung, listrik dimatikan dan dititipkan kepada tetangga. Kompor jangan lupa matikan. Jangan menyimpan lilin di sembarang tempat," jelasnya.
(mei/mad)










































