Tidak berbeda dengan Bagus, Ibunya Salihah juga demikian. Kantong matanya terlihat memerah akibat air mata yang coba ia usap dengan kain untuk menggendong si Bungsu.
"Semuanya habis Mas, nggak ada yang saya keluarin," ujar Salihah dengan nada yang terbata-bata saat ditemui di lokasi, Minggu (16/8/2009).
Salihah adalah salah satu penghuni lapak pengumpul barang bekas yang menjadi korban kebakaran di Kebagusan. Ia mengaku saat kejadian hanya memikirkan bagaimana menyelamatkan kelima anaknya.
"Saya langsung keluar ngajak anak. Bapaknya anak-anak lagi pulang kampung ke Tegal," terang Salihah.
Warga yang menjadi korban memang mereka yang berprofesi mengumpulkan barang bekas. Mereka tinggal dalam sebuah area yang berdampingan dengan tempat pemakaman umum (TPU) Kebagusan.
Lapak-lapak yang mereka tempati terbuat dari triplek dan kayu, dengan atap seng atau terpal. Kini Salihah pun harus kembali bertanya, dimanakah mereka akan melewati malam.
"Ntar tidur di mana juga ngga tahu. Bapak sudah di bel, sekarang sudah berangkat mau ke sini," ratap Salihah diantara petugas pemadam yang coba menggulung selang air.
Pemakaman di sekitar kompleks Kebagusan seolah menjadi saksi bisu kesedihan korban kebakaran. Makam yang biasanya ditakuti dan dihormati pun tidak berlaku hari ini.
Beberapa pemulung tampak menumpuk barang yang masih bisa mereka selamatkan di atas sebuah pusara. Tidak ada makam yang sakral hari ini.
Area yang sekarang ditempati Salihah dan rekan seprofesinya yang lain sebenarnya adalah lahan kosong persis disamping TPU. Tapi sejak 2 tahun lalu dihuni oleh para pengumpul barang bekas.
"Mereka pindahan dari kebakaran Cilandak. Jumlahnya puluhan bahkan mungkin ratusan," ujar Wakil Lurah Kebagusan Rahmat Mulyadi di lokasi kejadian. (her/mad)











































