Entah apa yang membuat lagu ciptaan WR Supratman tersebut tak dinyanyikan. Namun yang jelas, Ketua DPR Agung Laksono buru-buru minta maaf atas kealpaan ini.
"Tadi seharusnya ada lagu Indonesia Raya, tapi tidak dilaksanakan. Mohon nanti ditindaklanjuti," ujar Agung usai membakan sambutannya di hadapan anggota DPR, Presiden dan wakil presiden serta pejabat dan tamu undangan lainnya, Jumat 14 Agustus kemarin.
Presiden SBY dan Wakil Presiden Jusuf Kalla juga tampak lain dalam rapat tersebut. Berbeda dengan acara rapat paripurna sebelumnya yang keduanya tampak sumringah, SBY dan JK kemarin tampak banyak diam. JK lebih banyak membuka-buka buku pidato SBY, sementara SBY lebih banyak termenung. Apakah ini juga terkait tidak dinyanyikannya lagu Indonesia Raya? Entahlah.
Beragam reaksi atas tak dinyanyikannya lagu kebangsaan ini. Fraksi PKS menilai, perlu diklarifikasi serta dicek penyebabnya. Fraksi pendukung pemerintah, Fraksi Demokrat berpendapat, ini adalah kesalahan fatal. Sementara Fraksi Golkar mengapresiasi langkah kadernya, Agung Laksono yang segera minta maaf atas kekeliruan ini.
Komentar pedas keluar dari FPDIP. Fraksi banteng moncong putih tersebut akan mengirimkan surat teguran kepada Sekjen DPR lantaran dianggap lalai. Bahkan, FPDIP meminta agar Sekjen DPR Nining Indra dipecat. Ketua DPR Agung Laksono juga dianggap lalai dalam insiden 'memalukan' ini.
Agung tak tinggal diam. Dia berjanji akan menegur Sekjen DPR. Dan belakangan, Sekjen DPR meminta maaf atas kesalahan yang mereka lakukan. Pihak Sekjen DPR juga telah menegur MC yang membawakan acara tahunan nan sakral itu.
"MC sudah kita tegur karena semuanya sudah kita latih," ujar Nining . "Saya selaku Sekjen sebagai penyelenggara meminta maaf apabila acara berlangsung kurang sempurna. Namun demikian tidak akan terulang lagi," janjinya.
Beragam pendapat masyarakat soal luputnya lagu Indonesia Raya ini. Takron, pengemudi bajaj mengumpat para petinggi negeri ini yang dia anggap telah lalai. "Keterlaluan. Sebenernya kan sudah direncanakan dulu," kata Takron geram.
Hal senada diungkapkan Gustin (18), mahasiswa Uhamka. "Kalau acara kecil-kecilan sih nggak apa-apa, ini acara gede. Menyambut hari kemerdekaan pula," kritik wanita berjilbab tersebut.
Sungguh disayangkan. Acara yang seyogyanya sakral menjadi kurang sempurna. Padahal, kedatangan SBY- JK di DPR kemarin adalah yang terakhir sebagai presiden dan wakil presiden periode 2004-2009. SBY masih bisa ke tempat itu lagi, karena dia akan menjabat kembali sebagai persiden lima tahun mendatang. Tapi buat JK, ini adalah kehadirannya yang terakhir di gedung wakil rakyat, setelah dipastikan kalah dalam laga Pilpres 2009.
Kondisi ini diperburuk dengan banyaknya kursi wakil rakyat yang kosong, alias banyak yang tak hadir. Ironis!
(anw/anw)











































