"Itu Kapolri malu-maluin, masak pengumuman identitas harus nunggu DNA. Ngapain harus nunggu DNA mahal-mahal," kata ahli forensik dari RSCM Abdul Mun'im Idris saat berbincang dengan detikcom, Jumat (14/8/2009).
Mun'im mengatakan, seharusnya polisi tidak perlu melakukan tes DNA hanya untuk memastikan identitas seseorang. Polisi hanya perlu melakukan salah satu identifikasi primer.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibrohim telah tewas dalam penggerebekan di rumah Djahri di Beji, Kedu, Temanggung, Jawa Tengah, 8 Agustus lalu. Polisi baru mengumumkan siapa tersangka teroris tersebut pada Rabu 12 Agustus.
Fisik Ibrohim tidak rusak parah karena tidak banyak luka di tubuh pria yang semasa hidup berprofesi sebagai penata bunga tersebut. Tubuh Ibrohim hanya tertembus satu peluru di punggungnya, itu pun peluru yang memantul.
Dari wajahnya yang utuh, kelihatan jelas bahwa wajah Ibrohim berbeda tajam dengan foto/poster Noordin M Top yang selama ini tersebar. Sebelum polisi mengumumkan identitas Ibrohim berdasarkan DNA, telah tersebar informasi bahwa sidik jari jenazah berbeda dengan Noordin M Top. (ken/nrl)











































