"Semua tempat bisa disinggahi. Mau itu bersembunyi di Bandung, Garut, Cilacap atau tempat lainnya. Mereka (teroris, red) bisa berada di kota dan perkampungan," jelas pengamat intelijen Herman Ibrahim saat dihubungi detikcom melalui ponselnya, Kamis (13/7/2009).
Menurut Herman, jumlah para teroris di Indonesia tidak banyak. Makanya, hal tersebut merumitkan pihak kepolisian untuk menangkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, Herman menilai tindakan teroris dengan teror bom di Indonesia ialah perbuatan keliru. "Kalau melakukan teror bom di Indonesia namanya ngawur. Seharusnya mereka melakukannya di daerah-daerah konflik seperti di Afganistan dengan sasaran tentara Amerika. Mereka itu kan sangat membenci Amerika," tutur dia.
Disinggung adanya jejak Saifudin Jaelani yang melakukan perekrutan di Bandung Selatan sebelum ledakan bom di JW Marriot dan Ritz-Carlton, Herman tak berkomentar banyak.
"Saya belum mendapat informasi itu. Tapi dikatakan tadi, mereka bisa ke mana saja. Namun bagi saya, hal tersebut tidak penting. Karena mereka bukan ancaman bagi masyarakat kita, tetapi ancaman buat orang asing. Saya yakin, mau bersembunyi di belakang rumah saya pun mereka tak akan meledakkan bom," jelas Herman.
(bbp/asy)











































