Protes Penjualan Aset Negara, Kader Bendera Kubur Diri

Protes Penjualan Aset Negara, Kader Bendera Kubur Diri

- detikNews
Senin, 10 Agu 2009 20:26 WIB
Protes Penjualan Aset Negara, Kader Bendera Kubur Diri
Jakarta - Protes penjualan aset-aset bangsa dan pelaksanaan Pemilu yang dinilai diintervensi pihak asing, kader Benteng Demokrasi Rakyat (Bendera) menggelar aksi mengubur badan. Aksi digelar di Kantor lama PDIP, Jl Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat.

5 Orang dikubur di dalam lubang sedalam satu meter. Mereka dikubur dengan posisi duduk, hingga yang terlihat hanya kepalanya. Di belakang mereka, ada sebuah spanduk besar bertuliskan 'Jangan jual tanah Indonesia, kami rakyat Indonesia bukan budak Amerika. Tolak Presiden boneka RI'.

"Aksi ini menyusul keprihatinan kami atas Indonesia yang kekayaannya dijual pada asing. Pemilu didanai , dipantau dan diintervensi oleh asing. Kita tidak mau negara kita dijual terhadap asing," ujar koordinator Aksi, Mustar Boni Fentura di lokasi unjuk rasa, Senin (10/8/2009).

Aksi ini sudah dilakukan sejak tanggal 7 Agustus 2009 lalu. Namun saat itu aksi dihentikan karena semua relawan kesurupan.

"Tempat ini tempat bersejarah 27 Juli, waktu aksi yang pertama semua kesurupan. Kita panggil pemuka agama, kita adakan syukuran lalu hari ini kita mulai lagi," jelas Mustar.

Aksi hari ini dimulai Senin pagi dan akan selesai pada tanggal 12 Agustus 2009 bersamaan dengan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang perselisihan Pilpres. "Saat hari Rabu kita akan mengerahkan massa besar-besaran ke kantor MK," ungkapnya.

Pantauan detikcom, 5 orang ini dikubur secara berjajar. Di depan mereka ditaruh lilin dan bunga, disamping mereka pun diletakan bendera merah putih, bendera PDI Perjuangan dan bendera Amerika serikat dari kertas. Ada juga poster bertulisan 'Indonesia Not For Sale'.

Menurut Mustar aksi ini dilakukan secara bergantian. Jika ada yang tidak kuat digantikan orang lain. Rata-rata 1 orang kuat dikubur 3 jam.

Yuni, seorang relawan yang mengaku sudah dikubur sejak pukul 10.00 WIB. Ia mengaku yang paling sulit kalau sudah kesemutan. Selain keram, para relawan juga mendapat gangguan mental. Misalnya kaki seperti ditarik ke bawah.

"Yang paling susah, kaki saya kesemutan, mungkin karena peredaran darah tidak lancar. Rasanya seperti ada yang menarik," ujar wanita berusia tiga puluhan ini.
(rdf/nwk)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads