"Bulan Desember tahun lalu adalah perjumpaan terakhir secara fisik antara saya dengan Mas Willy. Saat itu kepada saya Mas Willy minta pamit. Beliau menyebut pamitannya sebagai pamitan basuki," papar Sugiyatno saat ditemui di rumahnya di Solo, Jumat (7/8/2009).
Pamit basuki adalah istilah khusus untuk menyebut akan segera meninggalkan segala urusan di dunia. Pamitan seperti itu sering dilakukan orang-orang tertentu yang memiliki kepekaan batin atau prarasa akan segera datangnya ajal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sugiyatno mengaku sangat terpukul atas kepergian Rendra, apalagi dia tidak bisa datang langsung ke Bengkel Teater untuk melihat untuk terakhir kalinya sosok orang yang dihormatinya. Hal itu lantaran saat ini Sugiyatno juga harus menunggui istrinya yang sedang sakit.
"Saya sedih. Kalau ke Solo, kemanapun Mas Willy hendak pergi, saya yang mengantar. Beliau sering ngobrol sampai malam dan menginap di rumah ini. Beliau bahkan datang dari Jakarta ketika bapak saya meninggal. Tapi saat beliau wafat, saya tidak bisa mengantarnya ke pemakaman," ujarnya sambil berkaca-kaca.
Tahlilan
Rasa kehilangan terhadap sosok Rendra juga dirasakan para seniman Solo. Maklum seniman kawakan itu pernah tinggal di Wisma Seni Taman Budaya Surakarta pada tahun 1999 hingga 2002, sehingga bisa sangat dekat dengan banyak seniman lintas generasi.
Sebagai bagian dari kecintaan mereka, pada 11 Agustus mendatang para seniman di Solo akan menggelar doa bersama di Wisma Seni. Doa dan ungkapan duka akan mereka ekspresikan melalui berbagai media baik tahlil, lagu-lagu, musik, puisi dan ekspresi lainnya.
Hari ini, sejumlah murid SMA Santo Yosef juga menggelar musikalisasi puisi karya Rendra. Acara tersebut digelar untuk megantar kepulangan Rendra ke haribaan Tuhan. Di SMA tersebut Rendra pernah mengenyam pendidikan sebelum meneruskan studinya ke Fakultas Sasta UGM.
(mbr/djo)











































