Demokrasi Satu-satunya Pilihan Agar Negara Bertahan Lama

Panel Budapest

Demokrasi Satu-satunya Pilihan Agar Negara Bertahan Lama

- detikNews
Kamis, 06 Agu 2009 23:39 WIB
Demokrasi Satu-satunya Pilihan Agar Negara Bertahan Lama
Budapest - Demokrasi satu-satunya pilihan apabila sebuah negara-bangsa ingin bertahan lama. Semua negara-negara besar pada masa silam sirna karena diperintah secara diktatorial atau otoriter.

Hal itu ditekankan oleh Dubes RI Mangasi Sihombing saat membuka diskusi panel di KBRI Budapest dalam rangka menyambut HUT RI ke-64, dihadiri para diplomat di Budapest, tokoh masyarakat, dan para mantan penerima beasiswa Indonesia.

"Menumbuhkembangkan dan memelihara demokrasi tidak cukup dilakukan melalui pendidikan demokrasi, tetapi juga dalam praktek berpolitik secara demokratis," demikian Sihombing seperti disampaikan Sekretaris III Pensosbud Patricia Silalahi selaku pemandu diskusi kepada detikcom sore ini (6/8/2009) Waktu Eropa Tengah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Disebutkan bahwa pemahaman mengenai demokrasi harus jelas bagi para politisi maupun warga biasa, karena demokrasi bukan hanya sekedar pemerintahan oleh mayoritas tetapi juga pemerintahan untuk melindungi minoritas. Setiap warga harus tahu hal-hal dan kewajibannya tetapi pemerintah juga harus tahu batas-batas kekuasaannya.

Diskusi digelar pada 4/8/2009, menampilkan 4 orang pembicara, yakni Kepala Hubungan Internasional Kota Budapest Dr. Zsolt Merey dan seorang pelukis yang pernah belajar mengajar di Indonesia Balogh Laszlo, MA serta dua orang diplomat senior Octavino Alimudin (KBRI Budapest) dan Manoj Mohapatra dari Kedubes India.

Mayoritas-Minoritas

Manoj Mohapatra memaparkan bahwa sistem pemerintahan India selalu mewujudkan nilai-nilai demokratis, bahkan menempatkan kelompok minoritas sebagai bagian dalam mengambil keputusan.

Dikatakan bahwa sekalipun penganut Hindu mayoritas, namun India pernah punya presiden dan wakil presiden dari kalangan minoritas Islam. Menanggapi pertanyaan dari hadirin, Mohapatra juga menyangkal ada sistem dinasti di India.

Mohapatra menegaskan, sebagai negara demokrasi terbesar di dunia dengan penduduk lebih dari 1 miliar dan jumlah pemilih 714 juta orang dalam pemilu April lalu, India mewujudkan pendidikan demokrasi bagi rakyatnya tetapi juga belajar dari pengalaman negara-negara demokrasi lainnya.

Pusat-Daerah

Sementara itu Dr. Zsolt Merey memfokuskan paparannya mengenai hubungan pemda dengan pemerintah pusat yang tidak selalu mulus. Bagi Merey, pembangunan melalui daerah itu bagian dari demokrasi dan tuntutan-tuntutan administrasi lokal adalah pemenuhan hal-hal demokrasi penduduk lokal.

Sedangkan Octavino Alimudin di samping mengemukakan kilas balik sistem ketatanegaraan Indonesia sejak kemerdekaan, juga menekankan urgensi pendidikan politik untuk menciptakan keadaan dan situasi kelembagaan yang akuntabel, serta kedewasaan dalam berdemokrasi.

Adapun Balogh Laszlo, MA menggarisbawahi bahwa dunia seni juga memberi sumbangan bagi demokrasi termasuk di Indonesia, mulai dari Raden Saleh hingga masa kini. Dikemukakan sejumlah karya seni yang merupakan bagian dari perjuangan nasional, notabene termasuk perjuangan demokrasi.

Laszlo mengingatkan bahwa pengaruh ideologi politik ke dalam dunia seni bisa mengakibatkan pendangkalan seni.

Pendidikan demokrasi dan kehidupan berdemokrasi adalah sesuatu yang harus terus-menerus dilakukan untuk melanggengkan demokrasi, demikian salah satu kesimpulan diskusi.

(es/es)



Berita Terkait