Budayawan Garin Nugroho menyanyangkan sosok Mbah Surip justru bersinar di tengah budaya masyarakat yang instan. Padahal, jika melihat jalan hidupnya, Mbah Surip bukanlah pribadi yang 'asal jadi' dalam proses berkeseniannya melantunkan lagu-lagu reggae.
Ia pernah menggelandang dari Bulungan, Taman Ismail Marzuki (TIM), dan Pasar Seni Ancol selama puluhan tahun sambil menenteng gitar, sampai akhirnya layar televisi melambungkan namanya.
"Ia sebenarnya pribadi yang langka, berproses, tetapi lahir dalam dunia yang instan," ujar Garin Nugroho saat berbincang dengan detikcom, Rabu (5/8/2009).
Oleh karenanya, Garin khawatir, histeria penggemar ketika kehilangan Mbah Surip juga akan menjadi sesuatu yang instan. Cepat ditangisi dan cepat pula dilupakan.
Selain sebagai pribadi yang langka, Garin menilai Mbah Surip sebagai pribadi yang santai. Dalam kehidupannya, Mbah Surip seolah tidak pernah terlihat diterpa badai masalah.
"Ia manusia rileks. Langka orang yang sudah sukses serileks dia," ujarnya.
(lrn/iy)











































