"Ini membuat orang yang tidak ingin beli, jadi beli," kata Mbah Durori di salah satu sudut jalan Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, Rabu (5/8/2009). Di lokasi itulah, Mbah Durori menjajakan kaset-kasetnya.
Mungkin karena pas bulan Agustus, Mbah Durori banyak memutar lalu-lagu bertema kemerdekaan. Selain itu, juga lagu-lagu perjuangan yang telah dikoleksi lelaki berusia 60 tahun itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pedagang tiban sepertinya meraup untung besar. Sepasang bendera ukuran kecil ia jual Rp 5.000. Jauh dari harga grosir yang hanya Rp 1.000.
Begitu pula bambu tiang bendera, dari harga Rp 8.000, bisa dijual Rp 15.000 - Rp 20.000. Belum lagi bendera ukuran besar, bola-bola plastik merah-putih ataupun umbul-umbul warna-warni. Semua ia lipatkan 2 kali lipat atau lebih.
"Kalau di atas tanggal 10 Agustus, pembeli ramai. Banyak yang pesen juga dari kelurahan atau kantor pemerintah," kata Durori sambil mengganti kasetnya yang telah soak.
Jadilah pedagang merah-putih menimba untung. Mengipas-ngipas laba sambil ditemani lagu klenengan yang mulai sember seperti Si Mbah satu ini.
(Ari/ken)











































