Ingin Tahu Pertanian, 12 Mahasiswa Jepang Ikut KKN UGM

Ingin Tahu Pertanian, 12 Mahasiswa Jepang Ikut KKN UGM

- detikNews
Rabu, 05 Agu 2009 16:11 WIB
Jakarta - Sebanyak 12 mahasiswa Ehime University Jepang mengikuti program Kuliah Kerja Nyata-Pemberdayaan dan Pengabdian Masyarakat (KKN-PPM) di Universitas Gadjah Mada (UGM). Mereka mengikuti program itu untuk mengetahui kehidupan pertanian di Indonesia.

"Selama 7 hari mereka akan kita terjunkan di dua lokasi di Desa Salam Magelang dan Piyungan Bantul," kata Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Dr Djagat Wiseso Marsono, MAgr di kantor Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UGM di Bulaksumur, Yogyakarta, Rabu (5/8/2009).

Menurut Djagat, kegiatan KKN 12 mahasiswa Jepang dari berbagai disiplin ilmu itu merupakan program pertama yang dilakukan untuk program education for sustainable development. Kegiatan ini
di bawah koordinasi Prof Ruth Vergin dari Ehime University.

Selama tiga hari mulai tanggal 5-7 Agustus akan mendapatkan pembekalan dan orientasi dari LPM UGM sebelum diterjunkan ke lapangan. Selama 7 hari, mereka akan tinggal dan hidup bersama masyarakat di dua lokasi untuk belajar berbagai hal mengenai pertanian.

"Meski dari berbagai disiplin ilmu, merek ingin belajar pertanian Indonesia, sebab pertanian di Jepang dengan Indonesia juga berbeda karena faktor musim dan tata cara pertaniannya," kata Wiseso.

Menurut dia, di Piyungan Bantul mereka akan belajar mengenai pengelolaan sampah kompos dan pemanfaatn biogas untuk rumah tangga. Sedangkan di wilayah Salam, Magelang akan belajar pertanian organik. "Mereka akan bergabung dengan mahasiswa UGM yang sedang KKN di tempat itu," kata Wiseso didampingi Ruth Vergin.

Sakamoto Takaaki, mahasiswa jurusan Global Studies menuturkan, sebelum datang ke Indonesia, mereka sebagian sudah belajar mengenai beberapa negara di Asia Tenggara. Secara teori sudah banyak hal yang diketahui mengenai Indonesia terutama pertanian.

"Saat ini tinggal melihat secara nyata mengenai cara pertanian dan kehidupan petani di Indonesia," kata Sakamoto.

Meski masih terkendala bahasa, dia dan teman-temannya tidak terlalu mengkhawatirkan. Sebab mereka akan didampingi beberapa leader untuk berkomunikasi. "Menggunakan bahasa tubuh atau gerak juga bisa dilakukan nanti," katanya.

(bgs/djo)


Berita Terkait