Tidak heran jika Adji kaget, sebab alat yang disebut thermo digital memang menyerupai pistol. Cara memegangnya pun tidak berbeda jauh ketika seseorang menggunakan alat tembak.
Dengan menekan tombol pada salah satu sisi, sebuah sinar infra merah akan terpancar dari ujung alat tersebut. Tidak lama, keluarlah angka pada sebuah layar kecil di sisi atas yang menyatakan suhu orang yang 'ditembak' tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat ini alat tersebut tengah digunakan di setiap bandara intenasional dan pelabuhan besar di Indonesia untuk membantu pemberantasan penyebaran flu babi.
Di DPR, penggunaan termo digital ini ditujukan untuk mencegah menyebarnya flu babi untuk peserta sidang paripurna.
"Jangan sampai ada resiko. Pada prinsipnya menghindari, karena ini kan banyak orang, jangan sampai kecolongan," ujar kasubid karantina ksehatan Depkes, Moch Mardi saat berlangsung rapat paripurna luar biasa di DPR, Senayan, Senin (2/3/2009).
Terdapat 12 termo digital yang tersebar di 3 pintu masuk di DPR saat berlangsungnya sidang paripurna.
"Ini hanya melihat gejala panas. Batasan kita 38 derajat celcius atau ke atasnya," ujarnya.
Selain Termo digital, alat lain yang juga digunakan di DPR untuk menentukan suhu badan seseorang adalah thermal scanner. Berbeda dari termo digital, alat ini berukuran lebih besar dan diletakkan di depan pintu masuk utama Nusantara I. Thermal scanner terdiri dari kamera dan layar dan dalam radius 15 meter dapat mendeteksi siapa saja yang sakit.
"Orang yang diperiksa tidak tahu kalau dia lagi diperiksa. Setiap orang yang bergerak dapat langsung berubah warnanya (di layarnya)," jelas Mardi.
Untungnya, kata Mardi, belum ada laporan anggota DPR maupun peserta rapat lainnya yang terdeteksi penyakit atau bersuhu badan panas.
"Alhamdulillah, dari 3 pintu masuk yang kita screen sampai saat ini tidak ada yang kita temukan panasnya 38," pungkasnya.
(amd/irw)











































