Pekanbaru Kembali Dikepung Asap

Pekanbaru Kembali Dikepung Asap

- detikNews
Senin, 03 Agu 2009 10:33 WIB
Pekanbaru Kembali Dikepung Asap
Pekanbaru - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan kembali mengepung kota Pekanbaru. Pemerintah dinilai tidak pernah serius menangani bencana lingkungan ini.

Kota Pekanbaru, Senin (3/8/2009), tampak diselimuti kabut asap tebal. Kondisi seperti ini sudah menjadi rutinitas tahunan di saat musim kemarau. Hal ini disebabkan banyak pihak melakukan kegiatan membakar hutan dan lahan untuk pertanian kelapa sawit.

Kabut asap ini sangat merisaukan warga, terutama mereka yang memiliki balita atau yang masih duduk dibangku sekolah dasar. Sebab, anak-anak paling rentan terserang penyakit infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kelau terus menerus dikepung asap, anak-anak kita ini yang paling mudah terserang penyakit. Pemerintah tidak mau peduli dengan kondisi kita di Riau ini. Masak setiap tahun terus ada asap," keluh Yuliansyah warga Pekanbaru.

Aktivitas kebakaran hutan dan lahan tidak lagi menjadi hal yang baru di Riau. Sudah 10 tahun kawasan hutan terus menerus dibakar oleh sekelompok orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

"Pejabat kita baik pusat dan daerah hanya sibuk urusannya sendiri, urusan politik dagang sapi serta sederetan kepentingan kelompoknya. Tidak ada yang mau peduli kondisi kebakaran hutan di Riau ini. Pemerintah sudah menganggap hal sepele soal kebakaran hutan itu," kata Direktur Tropika, NGO Lingkungan, Harijal Jalil.

Menurutnya, kebakaran hutan dan lahan di Riau ini, bukan lagi faktor ketidaksengajaan tetapi direncanakan dengan matang. Pola pembakaran hutan merupakan cara paling efektif untuk membuka perkebunan sawit atau ladang pertanian lainnya.

"Membakar kawasan hutan atau semak belukar cara paling mudah menekan biaya land clearing (pembersiah lahan). Dan biasanya ini dilakukan sejumlah perusahaan. Tapi yang selalu menjadi
kambing hitam itu tetap masyarakat. Masyarakat memang ada membakar lahan, tapikan skalanya paling cuma hektaran saja, sedangkan perusahaan ratusan hektar," kata Jalil.

(cha/djo)


Berita Terkait