"Menlu mengatakan telah menawarkan bantuan kepada keluarga, itu belum pernah sama sekali. Malah mengatakan kita menolak bantuan. Sebetulnya belum pernah mereka menawarkan bantuan, bagaimana kita bisa menolak kalau ditawari saja belum pernah," kata ayah David, Hartono Widjaja kepada detikcom via telepon, Rabu (29/7/2009) malam.
Malahan, keluarga David mengaku sangat mengharapkan bantuan dari Deplu, dan pernah menanyakan bantuan hukum untuk menyewa pengacara di Singapura. "Malah waktu itu dijawab KBRI tidak ada dananya. Kita mohon ditolak, tak ada dana untuk menyewa lawyer," cerita Hartono.
Menlu juga mengatakan, pejabat KBRI Singapura menyarankan untuk bawa pulang jenazah David dan jangan dikremasi terlebih dahulu sebelum proses otopsi selesai. "Sama sekali tidak ada saran dan anjuran. Yang ada mereka mengatakan bahawa jika mau dibawa pulang, KBRI telah menyediakan pesawat untuk pulang. Jadi bukan menyarankan. Kalau waktu itu disarankan begitu pasti saya bawa pulang," cetus pria paruh baya tersebut.
Pertimbangan jenazah David waktu itu langsung dikremasi, menurut Hartono karena dalam kepercayaan Budha yang dianutnya, pemuda yang meningal sebaiknya cepet dikremasi. "Waktu itu kita tidak menyangka David penuh luka di sekujur tubuh. Kalau tahu, saya tidak akan mengkremasinya," sesalnya.
Soal komentar juru bicara Deplu Teuku Faizasyah yang meminta semua pihak harus menghormati keputusan pengadilan koroner Singapura yang menyatakan David meninggal karena bunuh diri, pernyataan tersebut sangat menyakiti keluarga. "Ini sangat menyakitkan. Karena kasus ini penuh dengan konspirasi antara NTU dan kepolisian. Jelas-jelas David telah dibunuh," pungkasnya. (anw/irw)











































