"Surat ini susah dipertanggungjawabkan!" kata Executive Director the International Institute for Peacebuilding, Noorhuda Ismail saat berbincang-bincang dengan detikcom, Rabu (29/7/2009).
Menurut pengamat yang sering dimintai pendapat tentang kasus terorisme, keamanan, dan perdamaian oleh media internasional ini , semua orang bisa saja memposting suatu pernyataan di dunia maya. "Meski sebenarnya dulu ada pernyataan juga yang mengatasnamakan Imam Samudra saat Bom Bali I, namun tetap saja surat ini susah dipertanggungjawabkan," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi bahasa yang menggunakan bahasa Arab dan juga sandi 'Sariyah Jabir' dan 'Sariyah Azahari', Noorhuda menilai pembuat surat pernyataan itu mengerti idiom-idiom kelompok Noordin. "Dari bahasa, pembuat mengerti idiom-idiomย kelompok ini. Tapi gaya bahasa kan bisa dipelajari kan?" jelas mantan jurnalis The Washington Post yang telah mengenyam pendidikan di International Security di St Andrew University Inggris itu.
Surat 'Nurdin bin Muhammad Top' ini, kata dia, sebenarnya mirip dengan email yang beredar antara orang yang mengaku Andi Mallarangeng dengan orang yang bernama Muchlis Hasyim tentang kasus Bugis menjelang Pilpres 2009 lalu. "Bahasa kasus email Andi kan mirip banget. Surat pernyataan yang mengatasnamakan 'Nurdin' ini juga mirip bahasa-bahasa yang sering digunakan mereka," kata dia.
Noorhuda sepakat dengan penilaian bahwa surat pernyataan semacam ini terlambat beredar. Biasanya, surat pernyataan pengakuan ini beredar hanya beberapa jam atau beberapa hari setelah ledakan bom terjadi. Namun, surat 'Nurdin' ini baru beredar setelah 10 hari ledakan bom.
Noorhuda menduga mungkin para pelaku sengaja membingungkan aparat dengan tanpa meninggalkan jejak dan juga klaim. "Dengan tanpa jejak, penyelidikan akan lama dan memberikan ruang yang cukup buat mereka uuntuk menyelamatkan diri dari kejaran aparat," kata dia.
Munculnya pernyataan-pernyataan di internet ini, kata Noorhuda, sebenarnya justru membantu polisi dalam menelisik kelompok Noordin. Sebab, sebelumnya Presiden SBY telah membuka 'kemungkinan' adanya pelaku lain, selain kelompok Noordin. "Dengan surat pernyataan pengakuan seperti ini, polisi akan cepat menelisik jejaring Noordin yang sebagian besar telah mereka ketahui," kata dia.
Jadi, apakah surat pernyataan pengakuan ini layak dipercaya sebagai surat pernyataan kelompok Noordin? "Bagi saya, surat ini tidak perlu dipercaya," jelas Noorhuda.
Surat pernyataan pengakuan peledakan bom di Marriott dan Ritz-Carlton ini beredar di internet sejak 26 Januari 2009 lalu. Surat ini mengatasnamakan 'Nurdin' bukan Noordin, nama yang biasa ditulis di Indonesia. Surat pernyataan yang berhias bahasa Arab ini sarat salah ketik, termasuk menulis Ritz-Carlton, dengan 'RIZT CALRTON', Manchester United ditulis dengan 'Mancester United.'
(asy/nrl)











































