Maruto Jati Sulistyo, demikian nama lengkap lelaki asal Dukuh Pakisan Rt 19 Rw 9, Cawas Kalten, Jateng. Sejak SMA, dia tinggal di Semarang. Setahun setelah lulus dari SMA 3 Semarang pada 1998, Maruto melanjutkan studi ke FK Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) Semarang.
"Dia memilih program studi Kedokteran Umum," kata Wakil Dekan I FK Unissula, Iwang Yusuf di kantornya, Jl Kaligawe Semarang, Selasa (28/7/200).
Prestasi Maruto tak luar biasa. Nilai tertinggi diperoleh dari studi agama. Sementara untuk mata kuliah Biokimia, Hukum Kedokteran, Biologi Medis, dan keilmuan yang lain, nilai Maruto standar.
Iwang yang juga mantan dosen Maruto menjelaskan, saat kuliah, Maruto lebih banyak diam. "Dia juga tidak aktif di berbagai kegiatan kampus. Jadi setelah kuliah, ya dia langsung pulang," ungkapnya.
Iwang mengaku tak begitu mengenal Maruto secara khusus, dia juga menyangka jika bekas mahasiswanya itu tersangkut kasus terorisme. Maruto terakhir ikut kuliah pada tahun ajaran 2004/2005. Karena tak pernah nongol, dia di-DO.
"Aturan di sini seperti itu. Kalau tidak registrasi selama dua tahun, langsung dikeluarkan," imbuh Iwang.
Setelah 'lari' dari kampus, Maruto menikahi Tri Utami dan tinggal di Jl Pramuka IV Gedangan, Boja, Kendal. Di sana, ia tak memberikan data diri ke pihak RT, sehingga pejabat setempat tak mengenal betul sosoknya.
"Dia tak kelihatan lagi sejak dua atau tiga tahun lalu. Selama dia tinggal, saya tak pernah sekali pun bertemu dengannya," kata Ketua RT setempat, Suharno.
Di tanah kelahirannya, Maruto juga tak populer. Hingga kini, lelaki yang 'menghilang' misterius bersama istrinya itu tak diketahui keberadaannya. Sosok lelaki bertinggi sekitar 160 centimeter, berambut lurus, memiliki tahu lalat di wajah, dan selalu mengenakan celana di atas mata kaki itu, benar-benar tak lengkap. Apalagi menyangkut keterlibatannya dalam jaringan terorisme.
(try/anw)











































