Hal tersebut dibahas dalam Forum tahunan Heads of Asian Coost Guard Agency Meeting (HACGAM) ke-5 di Hotel Kartika Plaza, Kuta, Senin (27/7/2009). Pertemuan yang merupakan lanjutan dari pertemuan di Filipina pada 2008 itu diikuti 18 negara di Asia.
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan Widodo AS mengatakan, pertemuan membahas sejumlah isu kelautan, yaitu jaminan keamanan pelayaran, jaminan keamanan pengguna laut, keamanan pengguna laut untuk sumber makanan dan kegiatan ilegal di laut.
Menurut Widodo, pertemuan internasional di Bali membuktikan dunia internasional masih memberikan kepercayaan kepada Indonesia, meskipun baru saja mengalami serangan bom di hote JW Marriott dan Rizt-Carlton, Jakarta.
Pertemuan ini lebih menenkankan pada kesamaan pola penindakan dan pengamanan laut di kawasan Asia oleh 18 negara anggota HACGAM.
Pelaksana Harian Badan Koordinasi Keamanan Laut Dicky R. Munaf mengatakan peralatan TNI Angkatan Laut Indonesia saat ini sudah cukup canggih. Pasalnya, Petugas patroli tidak lagi memantau dan menangkap pelanggar dengan cara berkeliling perairan Indonesia. Dengan menggunakan IT dan satelit, TNI AL sudah
bisa mengindentifikasi pihak melakukan pelanggaran.
Pengamanan alur laut Indonesia mulai dari laut Cina Selatan sampai laut Arafuru. Di Indonesia akan ada 8 titik stasioner pengamanan laut. Titik stasioner saat ini telah ada Bangka Belitung, Tanjung Balai Karimun, Jakarta dan Bitung. Pada akhir tahun 2009 akan rampung pembangunan satelit pengamanan di Tarakan, Makassar, Bali dan Kupang. Pada pertemuan ini, Indonesia diwakili Dirjen Perhubungan Laut dan Polisi Air Polri, Menkopolkam, Mendagri, Jaksa Agung, Panglima TNI anggota Badan Koordinasi
Keamanan Laut.
(gds/ken)











































