"Pertama bisa diperalat oleh komunitas atau kelompok tertentu untuk kepentingan politik sesaat," kata Mantan Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Pemerhati Anak, Giwo Rubianto Wiyogo dalam surat elektronik kepada detikcom, Senin (27/7/2009).
Kemungkinan kedua, anak-anak tersebut mendapat pola asuh dan pendidikan soal agama yang kurang tepat. Akibatnya, terorisme tumbuh subur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemungkinan ketiga karena proses imitasi atau karena sekadar ikut-ikutan di lingkungannya. "Oleh karena itu, atas nama kemanusiaan dan kemaslahatan, kita harus perang terhadap terorisme, dengan tetap melindungi anak Indonesia dengan pendekatan yang responsif hak anak," ujar Giwo.
Untuk mengantisipasi kemungkinan tersebut, Giwo mengimbau Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dan Departemen Agama (Depag) untuk mengevaluasi total pendekatan pemahaman agama yang menjadi doktrin pendidikan di sekolah-sekolah, baik sekolah umum maupun model boarding school.
(amd/ken)










































