Tapi kabar itu dibantah mantan kuasa hukum sejumlah terdakwa teroris Palembang Bahrul Ilmi Yacub, Minggu (26/07/2009). Kata Bahrul, sejak teroris Palembang ditangkap pada 2 Juli 2008 lalu, jaringan teroris JI di Sumsel terhenti atau tidak berkembang lagi.
“Mereka kan sudah ditangkap, dan tidak ada lagi anggotanya di Sumsel,” kata Bahrul.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Wong Sumsel memandang Islam itu lebih rasional. Mereka tidak begitu senang dengan pemikiran-pemikiran yang tidak rasional. Mereka memandang Islam sebagai sesuatu yang berguna bagi kehidupan sehari-hari, yang lebih mementingkan kasih dan sayang,” kata Bahrul.
Hal yang sama dikatakan Fauzi, mantan Ketua Forum Anti Kegiatan Pemurtadan (Fakta) Sumsel.
“Tidak ada lagi. Saya yakin hanya dua orang itu yang masuk ke Fakta,” kata Fauzi (56), yang ditemui di rumahnya, kompleks Demang Azhar Blok F1, Demang Lebar Daun, Ilir Barat, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (24/07/2009) lalu.
Dua orang anggota Fakta yang merupakan jaringan JI itu adalah Abdurrohman Toib dan Agustiarwarman yang kini telah ditangkap dan menunggu vonis pengadilan.
Dijelaskan Fauzi, dua orang itu juga jarang mengikuti kegiatan yang dilakukan Fakta. “Kalaupun ikut dia hanya diam. Tidak banyak bicara,” katanya.
Di sisi lain, jelas Fauzi, pesantren kecil di Lempuing, Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel, yang menjadi tempat mengajar Ani Sugandhi, bersama Sugiarto, Heri Purwanto, dan Ki Agus M Toni, kini sudah tutup.
“Pesantren itu sudah tutup, dan Fakta Sumsel juga telah dibekukan,” kata Fauzi.
Kabar itu, menyebutkan apa yang diajarkan oleh Ani Sugandhi (anggota JI) maupun Fajar Taslim (jaringan Noerdin M. Top) mengenai keyakinan akan tindak teroris sudah banyak menyebar di Sumsel. Beberapa daerah yang dicurigai atau mungkin menjadi lokasi persembunyian para teroris baru, antara lain di Banyuasin, Mesuji, dan Palembang.
“Sulitlah mereka berkembang di Palembang. Wong Palembang ini lebih rasional. Kecuali mereka itu para pendatang dari daerah lain. Saya yakin tidak ada lagi jaringan itu di Sumsel. Sekarang para ulama dan orangtua, serta aparat keamanan, sangat menjaga persoalan tersebut,” kata Bahrul.
(tw/lrn)











































