Ajakan ini disampaikan LSM Kidia yang didukung Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan beberapa LSM dan Perguruan Tinggi (PT).
"Tujuan gerakan ini adalah mengurangi ketergantungan anak pada TV dan sebagai sarana ungkapan keprihatinan terhadap acara TV yang tidak berkualitas," ujar Kidia dalam brosurnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kidia juga menyarankan orang tua agar membatasi jam nonton TV anak. Caranya, matikan TV segera sesudah acara yang ditonton selesai, dan ajak anak untuk melakukan sesuatu yang sudah disepakati sebelum mereka mulai menonton TV.
Maklum, berdasar survei Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) tahun 2006, anak-anak rata-rata menonton TV selama 30-35 jam per minggu atau lebih dari 1.500 jam setahun. Jumlah nonton TV ini 2 kali lebih banyak dibanding waktu belajar mereka di SD yang sekitar 750 jam.Â
"Pengurangan jam nonton TV tidak harus drastis. Yang penting adalah pengurangan dari waktu ke waktu hingga paling lama 2 jam sehari atau 14 jam seminggu," tulis Kidia.
Sementara di Facebook yang bertajuk 'Hari Tanpa TV' sudah ada 13.090 anggota pendukung gerakan ini. Anda sebagai para orang tua ingin bergabung?
(nwk/nrl)











































