Dia pun langsung memberikan hormat dan membungkukkan badannya kepada para guru besar yang mengujinya.
Ujian terbuka akan digelar di Sekolah Pascasarjana UGM lantai V di Jl Teknika
Utara, Sabtu (25/7/2009). Disertasi Hendro berjudul "Terorisme Dalam kajian
Filsafat Analitika : Relevansinya Dengan Ketahanan Nasional."
Ujian terbuka akan dipimpin Dekan Fakultas Filsafat, Dr Muhtasyar Syamsudin
dengan promotor Prof Dr kaelan dan dua ko-promotor Prof Dr Djoko Suryo dan Prof Dr Lasiyo. Sedang tim penguji di antaranya Prof Dr Syafii Maarif, Prof Dr Syamsul Hadi dan Prof Dr Kunto Wibisono.
Ujian juga dihadiri oleh mantan Ketua Umum Partai Golkar, Dr Akbar Tandjung,
Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad, mantan Gubernur DKI Sutiyoso, Ketua DPD RI Ginandjar Kartasasmita, mantan ketua KPK Taufiqurahman Ruki, mantan
anggota JI Nasir Abbas dan Muchdi PR.
Ujian terbuka yang berlangsung selama 90 menit itu, Hendro tampak tidak tegang. Semua pertanyaan yang diajukan oleh tim penguji dijawab dengan runut dan lancar. Bahkan beberapa penjelasannya sempat mengundang decak kagum yang langsung disambut dengan tepuk tangan hadirin.
Dalam disertasinya Hendro mengatakan perbuatan terorisme muncul dari pikiran manusia. Terorisme itu subyeknya manusia. Sedang obyeknya juga manusia. Terorisme itu berangkat dari pemikiran manusia yang bisa didekati dengan disiplin ilmu filsafat.
Terorise dalam sejarahnya itu tidak pernah konsisten. "Selalu berubah, seorang
teroris bisa berubah menjadi pahlawan dan seorang pahlawan juga bisa berubah jadi teroris," kata Hendro.
Saat promotor Prof Dr Kaelan mengumumkan hasil ujian terbuka Hendro dengan predikat cumlaude, Hendro langsung tersenyum sambil membungkukkan badan sebagai tanda rasa hormat pada semua guru besar. Dia kemudian menerima ijazah tanda lulus ujian doktor.
Setelah itu dia memberikan salam hormat dengan menempelkan tangan kanannya di kepala. Sebagai ungkapan rasa bangga, dia kemudian membalikkan badan ke arah tamu undangan sambil mengangkat ijazahnya.
Promotor Prof Kaelan dalam pesannya mengatakan Hendro masuk pertama kali
disambut dengan bom Bali II. Saat mau lulus disambut bom JW Marriot jilid II.
"Saya tidak tahu apa ini tantangan atau analisa saudara jadi terbukti," ungkap
dia.
Menurut Kaelan, Hendro rajin datang dan tidak pernah diwakili oleh ajudannya saat mengikuti kuliah. Dia adalah orang yang haus ilmu. Saat bimbingan juga
selalu mengatakan Prof apakah saya diperbolehkan menelepon. "Bahkan menjelang ujian, bimbingan jam 2 pagi pun dijalani. Saya hanya mengingatkan menjaga kesehatan saja," katanya.
Kaelan menambahkan yang tidak kalah membanggakan adalah seorang jenderal diuji oleh seorang guru besar mantan kopral yaitu Prof Dr Kunto Wibisono yang pernah menjadi tentara saat perjuangan. Hendro adalah doktor ke 1.089 yang lulus di UGM dan doktor ke 51 dari Filsafat UGM.
(bgs/aan)











































