Nur Hasbi alias Nur Said yang berasal dari Temanggung, Jawa Tengah, sudah tidak pernah pulang ke rumah orangtuanya sejak empat tahun lalu. Namun, menurut Hartoyo, kakak iparnya, Nur pernah mampir beberapa saat ke rumahnya di Dusun Seman, Desa Pager Gunung, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung.
Densus 88 Polri pernah mencari Nur Hasbi pada 2004 lalu, saat polisi gagal menggerebek Noordin Moh Top di Wonosobo. Dia diduga sebagai anggota jaringan Noordin Moh Top dan Jamaah Islamiyah (JI). Tapi, apa peran Nur Hasbi alias Nur Said di jaringan itu, belumlah terang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun diduga Nur Hasbi sempat berada di kamar 1808 sebelum bom itu meledak. "Dia yang merangkai bom. Dia pula yang mengemas bom itu di tas ransel dan tas laptop," kata sumber itu.
Menurut dia, bom tidak dirakit di dalam kamar itu. Bom itu dibawa masuk melalui cara tertentu dan dalam bentuk bom yang sudah jadi. Yang dilakukan di dalam kamar itu hanyalah pengemasan bom.
"Jadi ada tiga bom. Dua bom dimasukkan ke dalam tas ransel yang dibawa pelaku bom bunuh diri, dan satu bom ditaruh di tas laptop yang siap diledakkan di dalam kamar itu," ujar dia.
Peran Nur Hasbi diduga kuat sebagai perakit bom dan pengemas bom itu. Ada kemungkinan Nur Hasbi merupakan ahli bom baru setelah Dr Azahari tewas. "Saat bom meledak, Nur Hasbi memantau dari luar hotel," kata dia.
Tapi benarkah informasi itu? Hingga kini, polisi masih terus menyelidiki ledakan bom di Marriott dan Ritz-Carlton itu. Polisi tidak mau membeberkan hasil penyelidikannya hingga penyelidikan selesai.
(asy/iy)











































