"Ini tudingan baru bahwa media memilintir isi pidatonya. SBY kerepotan dengan pidatonya, kelihatan mengkoreksi pidatonya padahal berputar-putar dan diulang-diulang," kata Juru Bicara Tim Sukses JK-Wiranto, Indra J Piliang, kepada detikcom, Kamis (22/7/2009).
Indra mengatakan, dalam pidato 21 Juli, SBY justru mencari musuh baru di luar pasangan Megawati-Prabowo dan JK-Wiranto. SBY menyebutkan ada pihak di balik pelaku pemboman yang dikaitkan dengan pilpres, namun dibantah bahwa pihak itu adalah lawan politiknya saat berkompetisi di pilpres 2009.
"Kalau kita analisis SBY pada bagian awal menyebutkan poin teroris, bagian terakhir menyebut pilpres, dia tidak menjelaskan ini dua hal yang terpisah, yang diketahui ini pidato dalam satu nafas. Kalau disampaikan dengan normal, tidak ada masalah sebetulnya tapi ini suasana pemboman, momen ini dimanfaatkan. Yang jelas mencari musuh politik baru di luar Mega dan JK," tutur Indra.
Media massa, menurut Indra, seharusnya menjadi alat untuk memerangi terorisme. Tapi jika SBY tahu pidatonya dipelintir oleh media seharusnya SBY menggugat media tersebut.
"Media sudah benar, tidak ada masalah. Media online ada transkip pidatonya, radio disiarkan secara live, TV juga live bahkan diulang-ulang. Kalau dikatakan memilintir, mestinya SBY menggugat media tersebut untuk mendapat hak jawab," jelasnya.
(mpr/nrl)










































