"Kalau tidak melakukan seharusnya tidak perlu merasa terpojokkan," kata Wakil Ketua Dewan Pakar Tim Sukes SBY-Boediono Bara Hasibuan kepada detikcom, Rabu (22/7/2009) malam.
Bara mengatakan dalam pidato presiden 17 Juli lalu tidak menyebutkan nama atau kelompok secara spesifik mengenai pelaku peledakan yang menewaskan 9 orang tersebut.
"Presiden tidak menyebut nama, jadi mengapa harus merasa terpojokkan? Justru kalau merasa berarti ada sesuatu," kata Bara.
Mengenai pengungkapan presiden tentang adanya pihak-pihak yang akan mengacaukan hasil pemilu, menurut Bara hal itu merupakan kewajiban seorang kepala negara untuk menyampaikannya kepada publik.
"Seperti pengungkapan akan ada pendudukan KPU, hasil pemilu tidak legitimate dan sebagainya itu memang kewajiban presiden untuk menyampaikannya ke publik," paparnya. (mpr/mok)











































