"Secara psikologis, komunikasi orang yang terlalu senang atau terlalu sedih bisa melakukan kesalahan.
Dalam konteks ini, Pak SBY pada saat pidato setelah pemboman, Pak SBY terlalu sedih," kata pengamat komunikasi politik Effendi Gazali.
Hal itu disampaikan Effendi dalam diskusi publik di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (22/7/2009).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini bisa kita lihat dari gestur dan cara Pak SBY bicara yang agak terisak-isak," kata Effendi.
Dalam kondisi ini, menurut Effendi, SBY seharusnya didampingi tim yang memberikan kekuatan untuk menghadapi masalah terorisme.
"Seharusnya, dalam konteks satu dua minggu setelah peledakan, seharusnya semuanya bersatu di belakang Presiden," tandas pengamat asal Universitas Indonesia (UI) ini. (ken/iy)











































