"Pernyataan tersebut asbun alias asal bunyi," kata Sekjen Jaringan Nusantara Andi Arief dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (21/7/2009).
Andi menegaskan, tidak satupun isi pidato SBY tentang bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton. Dalam pidatonya, SBY hanya mencemaskan jika aksi teror bom tersebut berkaitan dengan hasil Pilpres 2009.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sama halnya, dari mana Yuddy tahu yang melakukan teror bom itu adalah jaringan Jamaah Islamiyah atau kelompok lainnya. Jadi jangan asbun," tukas Andi.
Ditambahkan Andi, saat ini pihaknya sedang menginventarisir pernyataan bernada fitnah yang dilontar sejumlah lawan politik SBY. Menurutnya, pihaknya tidak akan segan-segan melakukan proses hukum jika aksi fitnah tersebut terus berlanjut.
"Kita ingin proses berpolitik di Indonesia berlangsung sehat. Tidak sebaliknya, penuh fitnah dan sebagainya," tegas Andi.
Sebelumnya diberitakan, Yuddy menilai pernyataan Presiden SBY yang mengaitkan bom di Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton dengan Pemilihan Presiden (Pilpres) emosional dan ceroboh. Karena itu dia meminta SBY meminta maaf kepada pihak-pihak yang secara tidak langsung telah dituduhnya.
"Untuk menjernihkan situasi, sebaiknya Presiden meminta maaf secara terbuka pada JK-Wiranto serta Megawati-Prabowo yang telah menjadi objek tuduhan yang sesat. Selanjutnya serahkan pada Polri untuk mengungkap dan menjelaskan temuannya pada masyarakat," ujar anggota Komisi I DPR itu.
Menurut Yuddy, SBY ceroboh menerima begitu saja laporan intelijen dan mengumumkannya ke publik tanpa melakukan pendalaman kebenaran laporan tersebut apakah terkait bom di Mega Kuningan atau tidak.
"Tuduhan SBY yang cenderung ditunjukkan kepada pihak yang kalah Pilpres terbukti tidak benar, setelah rangkaian fakta-fakta mengarah pada pelaku lama terorisme yang selama ini menjadi incaran pihak Kepolisian," tukas Yuddy.
(djo/iy)











































