Keluarga Ibrahim mendatangi RS Polri sekitar pukul 11.00 WIB, Senin (20/7/2009). Pihak keluarga yang datang adalah dua kakak kandung Ibrahim, yaitu Toha Muhammad dan Mualif Sumi, dan kakak sepupu Ibrahim, Hadyu Muhammad.
Kepada wartawan, Hadyu mengaku belum mengetahui keberadaan Ibrahim. "Pihak keluarga sudah mengunjungi seluruh RS, namun belum ada informasi yang jelas," kata Hadyu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Hadyu, kakak Ibrahim, Toha tak bisa menghubungi ponsel Ibrahim sekitar pukul 09.00 WIB di hari bom meledak. Ibrahim memiliki ciri-ciri tinggi 170 cm, rambut lurus, kulit kuning langsat.
Menurut Hadyu, Ibrahim bekerja di Ritz-Carlton sudah sekitar 3 tahunan. Ibrahim yang memiliki 4 anak itu ngekos di sebuah pemukiman di belakang Hotel Ritz-Carlton. Saat itu Hadyu mengaku disuruh membawa sikat gigi dan baju milik Ibrahim.
Sekitar 5 menit Hadyu mengobrol dengan wartawan, Hadyu pun menerima telepon dari kakak Ibrahim, Toha.
"Saya nggak boleh nih sama kakaknya Ibrahim. Saya disuruh masuk. Sama Pak polisi nggak boleh (memberi keterangan). Saya disuruh masuk," ujar Hadyu yang langsung masuk ke ruang pemulasaraan jenazah.
Kemudian 10 menit setelah kedatangan Hadyu, ada seorang lagi yang mengaku kerabat Ibrahim. Dia bernama Matalih. Matalih membenarkan bahwa Ibrahim indekos di belakang Ritz-Carlton.
Tak lama ngobrol dengan wartawan, Matalih didekati polisi dan dibawa menjauh dari kerumunan wartawan untuk dimintai keterangan.
Keluarga Ibrahim diperbolehkan oleh tim identifikasi untuk melihat jenazah dan potongan tubuh yang tersimpan di RS Polri. Hingga pukul 11.30 WIB kemarin keluarga Ibrahim masih berada di dalam Instalasi Jenazah untuk membantu mengenali para korban tewas yang belum teridentifikasi.
Hingga malam pukul 20.00 WIB, tak tampak satu pun keluarga Ibrahim keluar dari ruang pemulasaraan jenazah. Apakah identitas Ibrahim sudah diketahui atau belum, belum ada kabarnya hingga hari ini, Selasa (21/7/2009).
(nwk/asy)











































