"Ini menunjukkan lemahnya intelijen kita yang belum mampu mendeteksi gerakan teror bom dengan tempat yang sama. Ini jelas menantang aparat Indonesia," kata Ketua FPDIP DPR, Tjahjo Kumolo lewat pesan singkat kepada detikcom, Sabtu (18/7/2009). Bom juga pernah meledak di hotel JW Marriott pada Agustus 2003.
Tjahjo meminta agar Polri, TNI bersama intelijen RI untuk terus bersinergi dalam melawan segala bentuk ancaman teror.
"Pemerintah harus secepatnya memberikan jaminan keamanan kepada masyarakat, dan jaring-jaring intelijen harus 24 jam melakukan deteksi dini dan penetrasi yang keras terhadap gerakan-gerakan teror," tegas anggota Komisi I DPR yang membidangi masalah pertahanan ini.
Polri dan jaringan intelijen, lanjutnya, harus cepat melokalisir dan mengungkap masalah ini sehingga mampu memberikan iklim yang sejuk dan tenang di berbagai sektor.
"Peledakan di tempat sama adalah bentuk tantangan terbuka dari terorisme dan ini harus dilawan dengan sikap siapa kawan siapa lawan kepada siapapun yang membuat ketegangan dalam masyarakat," tuturnya.
"Ini gerakan teror dan saya yakin Polri dengan jajaran intelijen terpadu mampu melawan dan menangkap pelaku otak gerakan teror ini. Tidak hanya bom di 2 hotel, tapi juga pengacau keamanan di Timika, Papua," pungkasnya.
(lrn/lrn)











































