Penyebabnya adalah soal tuduhan terhadap Presiden Palestina Mahmoud Abbas yang disiarkan Al-Jazeera. Kementerian Informasi Palestina menyatakan, saluran berita yang berbasis di Qatar itu telah menyebarkan kebohongan.
Dikatakan Kementerian, Al-Jazeera menyiarkan tuduhan yang disampaikan figur senior di partai Fatah pimpinan Abbas, Farouq al-Qadoumi. Qadoumi mengatakan bahwa Abbas telah berkonspirasi dengan Israel untuk membunuh mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat pada tahun 2003. Arafat meninggal di sebuah rumah sakit di Paris, Prancis karena penyakit yang dirahasiakan.
Tudingan itu dibantah keras otoritas Palestina. Menurut Kementerian Informasi Palestina, Al-Jazeera telah berulang kali diserukan untuk tetap obyektif ketika meliput urusan Palestina, namun seruan itu tak diindahkan.
Tiga polisi Palestina telah mendatangi kantor biro Al-Jazeera di Ramallah untuk menyampaikan surat perintah penghentian operasi.
"Staf Al-Jazeera tidak diizinkan bekerja, tidak diizinkan menyiarkan dan para kru tidak dibolehkan bekerja di lapangan sampai pengadilan mengeluarkan putusannya," kata Adnan Damiri, juru bicara dinas keamanan Palestina seperti dilansir kantor berita Reuters , Kamis (16/7/2009).
"Kami akan memonitor mereka," tandasnya.
Hubungan antara otoritas Palestina dan Al-Jazeera memang kerap dilanda ketegangan. Para pejabat Palestina menuding media tersebut berpihak pada kelompok militan Hamas. Hal itu telah dibantah Al-Jazeera.
(ita/iy)











































