"Matahari berada tepat di atas Makkah, dengan kita melihat ke Matahari atau bayangan benda-benda, berarti kita menghadap kiblat," kata peneliti utama astronomi-astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Dr Thomas Jamaluddin saat berbincang dengan detikcom.
Thomas mengatakan, peristiwa ini terjadi dua kali selama tahun 2009. Momen pertama terjadi pada 28 Mei pukul 16.18 WIB. Sedang momen kedua terjadi pada 15 Juli atau 16 Juli pukul 16.27 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk waktu bisa plus minus 5 menit dari waktunya. Misalnya pukul 16.22 WIB atau 16.32 WIB," kata Thomas.
Lalu apakah ini akan mempengaruhi arah kiblat setiap masjid? "Tidak, karena posisi kiblat itu kan sudah di situ. Tapi ini bisa jadi panduan untuk mencocokkan arah kiblat, siapa tahu selama ini arahnya salah," katanya.
"Kan kalau masjid dulu kan kadang arah kiblat hanya perkiraan saja, jadi tidak tepat," lanjut Thomas. (ken/nrl)










































