Mereka menyerahkan draft Ranperda (rancangan peraturan daerah) itu kepada wakil mereka yang duduk di DPRD Makassar, Jl AP Pettarani, Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (13/7/2009).
Yang menarik dari aksi mereka adalah konvoi pedagang disambut dengan pertunjukan seni tradisional Bugis-Makassar, yakni atraksi sepak raga dan tarian bakar diri, pepe-pepeka ri makka. Bahkan, penari sempat mengajak legislator dan polisi untuk berpartisipasi dalam aksi 'bakar diri' tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Direktur Acsi, Ishak Salim, sebelum DPRD Makassar mengesahkan Ranperda tersebut, sepatutnya para legislator yang tergabung dalam panitia khusus juga memperhatikan aspirasi para pedagang dan tidak membiarkan pihak kontraktor pengembang melakukan langkah kekerasan pada para pedagang.
"Pemerintah kota Makassar tidak boleh menganak-emaskan pasar-pasar modern, seperti Ruko dan Mall, dan selalu memandang sebelah mata pada para pedagang pasar tradisional," tutur Ishak kepada detikcom.
Sementara menurut Ketua Pansus DPRD Makassar, Hasyim Ramlan, pihaknya dengan senang hati menerima draft usulan Ranperda dari para pedagang, terutama dengan cara penyampaiannya yang unik dan menarik.
"Tentunya, tidak semua tawaran mereka kami terima semua, kami masih akan mempertimbangkannya," kilah Hasyim, yang juga politisi PKS Makassar.
(mna/irw)










































