Tragedi pada 1 Juli 2009 itu begitu tragis. Marwa El Sherbini (32) dan suaminya sedang menggugat Alexander W (28) di Pengadilan Dresden atas penghinaan yang bersifat rasis. Saat Marwa selesai membaca pembelaan diri, Alexander langsung kalap dan tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau.
Perempuan berjilbab itu ditikam 18 kali di depan hidung hakim. Sang suami mencoba melindungi dan ikut ditikam. Di tengah suasana kacau, polisi pun datang. Namun yang mengherankan, polisi malah menembak kaki sang suami. Marwa tewas dan suaminya dilarikan ke rumah sakit. Alexander digelandang ke kantor polisi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada Agustus 2008, Marwa sedang bermain di taman bersama putranya, Mustafa (3). Alexander dan keponakannya juga sedang bermain ayunan di tempat yang sama. Saat Marwa ingin meminjam ayunan untuk Mustafa, yang didapatkannya adalah penghinaan.
โPelacur (Schlampe)! Teroris (Teroristin)!โ hardik Alexander saat itu.
Marwa yang tersinggung, bersama suaminya kemudian menuntut Alexander di Pengadilan Dresden. Hakim memutuskan Alex harus membayar denda 780 Euro. Namun sidang pada 1 Juli 2009 lalu itu berakhir dengan penuh darah.
Tragedi ini sangat menggegerkan Jerman. Menteri Hukum negara bagian Sachen, Macken Geert Roth, datang ke lokasi pada hari yang sama.
โKami sangat syok dan sangat berduka cita kepada pihak keluarga korban,โ ujar Roth seperti dilansir Stern.
Protes lebih besar datang dari seluruh komunitas muslim di Jerman, yang menilai telah terjadi tragedi akibat Islamophobia. Mereka menuntut adanya penyataan sikap tidak hanya dari pejabat negara bagian, melainkan dari pemerintah Federal. Sementara, di berbagai masjid di Jerman diserukan untuk melakukan salat gaib. (fay/nrl)











































