Masyarakat RI di Korsel Bentuk Tim Pemantau Pemilu
Rabu, 31 Mar 2004 18:51 WIB
Jakarta -
Kemeriahan pemilu tak hanya terjadi di tanah air. Setelah melalui persiapan yang cukup lama, beberapa warga negara Indonesia (WNI) di Korea Selatan mengumumkan pembentukan "Tim Masyarakat Indonesia Pemantau Pemilu 2004 di Korea". Pembentukan tim itu sendiri berlangsung kemarin, Selasa (30/3/2004).Tim tersebut dibidani oleh tujuh WNI yang sedang menjadi trainee di perusahaan-perusahaan Korea maupun mereka yang sedang mengambil programmaster dan doktor di Korea. Tim itu terdiri dari Ratih Pratiwi Anwar (koordinator), Agus S. Pamitran (sekretaris), Qodarian Pramukanto, Andy Fadly Yahya, Supangat, Augi W. Haryadi dan Budi Santosa selaku anggota.Menurut Ratih Pratiwi Anwar, mahasiswa Kyung Hee University Seoul, pemilu untuk memilih anggota DPR, Presiden dan Wakil Presiden yang berlangsung di Korea harus menjadi pemilu yang bersih dan demokratis untuk mendukung pelaksanaan konsolidasi demokrasi di Indonesia. Dalam e-mail yang diterima redaksi detikcom, Rabu (31/3/2004), penerima beasiswa program doktor dari pemerintah Korea ini mengatakan, untuk mewujudkan pemilu yang bersih dan demokratis diperlukan partisipasi masyarakat Indonesia di Korea sebagai pengawas pemilu. Masyarakat Indonesia di Korea sendiri terdiri dari pekerja, trainee dan mahasiswa yang tersebar di seluruh penjuru negeri ginseng.Agus S. Pamitran menambahkan, tim ini dibentuk atas dasar rasa tanggung jawab untuk ikut berperan aktif dalam pelaksanaan pemilu agar suara masyarakat Indonesia di Korea sampai kepada yang berhak. "Kami berdiri sebagai unsur masyarakat yang melakukan pengawasan secara independen terhadap pelaksanaan Pemilu pada 5 April dan 5 Juli 2004," kata kandidat doktor bidang Refrigeration Engineering di Yosu National University, Provinsi Cholla Selatan, Korea.Anggota tim Supangat mengungkapkan, pemantauan pemilu ini sangat penting untuk menjaga demokrasi dan pelaksanaan hak-hak warga negara masyarakat Indonesia di Korea agar tidak ternodai oleh kepentingan-kepentingan individu atau kelompok. "Sebagai mahasiswa kami terpanggil untuk menjaga kedaulatan rakyat agar tetap di tangan rakyat sebagai hasil perjuangan mahasiswa pada tahun 1998," ujarnya.Nantinya, kerja tim tersebut akan dibantu secara sukarela oleh masyarakat Indonesia, baik dari kalangan pelajar, pekerja dan WNI lainnya yang tersebar di delapan provinsi di Korea Selatan dan di ibukota Seoul.Sebanyak 18.000 WNI telah terdaftar sebagai pemilih di Korea untuk pemilu tahun ini. Selain dengan cara pemilihan langsung di tempat pemungutan suara (TPS), sebagian pemilih akan menyalurkan hak pilihnya melalui pos yang direncanakan sebanyak 8.000 surat suara. Untuk pemilu legislatif 5 April mendatang di Korea terdapat 15 lokasi TPS yaitu di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Seoul, Gereja Sindorim danGereja Uijoungbu (Seoul), Warung Indonesia (WI) Borobudur (Suwon), WI Nusantara (Ansan), WI Monas (Incheon), Sekretariat Percid (Incheon), Musholla Al-Kautsar (Pucheon), WI Cheonam (Cheonam), WI Cintaku (Daejon), WI Hanil (Daegu), WI Cafe Jakarta (Kumi), WI Kwangju (Kwangju), Konsulat RI (Pusan) dan Masjid Tusil (Pusan).Dalam proses pemantauan pemilu nanti tim ini akan menjalin koordinasi dengan Panitia Pemilihan Luar Negeri di Korea Selatan maupun di Indonesia dan lembaga pengawas pemilu di Indonesia. Hasilnya akan dilaporkan kepada lembaga pengawas pemilu di Indonesia dan masyarakat luas.
(ani/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































