Salah Ketik Kartu Pemilih Panikkan Calon Pemilih

Salah Ketik Kartu Pemilih Panikkan Calon Pemilih

- detikNews
Rabu, 31 Mar 2004 15:01 WIB
Jakarta - Coblosan kurang 6 hari lagi. Tapi masih banyak yang belum menerima kartu pemilih. Yang sudah menerima kartu pemilih pun, banyak yang khawatir tidak diperkenankan mencoblos karena ketikan di kartu pemilih banyak yang keliru.Kasus salah ketik, misalnya dialami oleh keluarga Budi Setiawan. "Kami tinggal di Bogor dan sekitar 2 minggu yang lalu telah menerima Kartu Pemilih 4 lembar yaitu buat kami (suami istri) dan 2 orang anak. Namun setelah diteliti ulang, dari 4 kartu tersebut ada 2 yang salah, yaitu pada tanggal lahirnya. Data yang lainnya tidak ada masalah. Kami khawatir nanti tidak bisa nyoblos," keluh Budi pada detikcom, Rabu (31/3/2004).Keluhan serupa disampaikan Sigit Widodo, warga BSD sektor I-7, Desa Lengkong Gudang Timur, Kecamatan Serpong, Tangerang. Dari 3 kartu pemilih yang diterima pada Minggu (28/3), tidak ada yang benar.Sigit beserta istrinya salah ketik di tempat lahir. Sedangkan satu kartu pemilih lainnya untuk seorang pembatu rumah tangga, keliru ketik di bagian jenis kelamin. "Jenis kelaminnya salah, ditulis laki-laki. Padahal namanya sudah jelas perempuan: Sumarniyah," cerita Sigit.Anggota KPU Pusat Anas Urbaningrum saat dikonfirmasi menjelaskan, salah ketik pada kartu pemilih terjadi karena tidak sempurnya proses pendaftaran pemilih yang dikenal sebagai P4B. Kepada pemilih yang kartu pemilihnya salah ketik, kata Anas, diimbau untuk membawa indentitas penguat seperti KTP atau SIM. "Tidak usah khawatir tidak bisa mencoblos, lengkapi saja dengan identitas pendukung lainnya," kata Anas. Jika kesalahan cuma satu dua, misalnya tanggal lahir atau jenis kelamin, menurut Anas, tidak terlalu fatal. Yang fatal adalah jika semua identitas salah ketik semua. Nah, itulah yang disebut sebagai "pemilih hantu" alias ghost voter. Jumlah "pemilih hantu" ini menurut survei LP3ES mencapai 2,5% dari 147,905 juta pemilih di dalam dan luar negeri."Petugas TPS juga mesti mencermati orang yang membawa kartu pemilih dan pemilihnya. Kalau namanya jelas wanita, tapi terketik laki-laki, ya petugas TPS mesti mencermati keadaan faktualnya bahwa yang benar pemilih itu memang wanita dan kartunya adalah salah ketik," demikian Anas. (nrl/)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini