Warga Turunkan Bendera Parpol, untuk Membuat Sarung Bantal
Selasa, 30 Mar 2004 21:56 WIB
Palembang - Masa kampanye di Palembang baru akan berakhir pada tanggal 1 April 2004 lusa, tapi sejak Senin (29/3/2004) malam, sejumlah bendera parpol sudah diturunkan masyarakat. Sebagian mengaku untuk digunakan membuat sarung bantal.Beberapa hari lalu puluhan parpol di Palembang merogoh koceknya dalam-dalam untuk memproduksi bendera, mereka tidak peduli dengan kondisi masyarakat yang sebagian besar "sulit makan". Harga sebuah bendera kecil, misalnya, seharga satu kilogram beras.Maka di masa akhir kampanye ini masyarakat yang "lapar" itu berebut menurunkan bendera parpol. Bukan untuk dibakar tapi untuk dijadikan sarung bantal atau selimut."Aku semalam dapat 10 bendera, lumayan buat sarung bantal dan selimut," kata Heri, warga 14 Ulu Palembang, saat berbincang dengan detikcom di warung kopi di Jl. Merdeka, Palembang, Selasa (30/3/2004) sore.Rebutan menurunkan bendera itu, kata Heri, dilakukan warga di kampungnya setiap berakhirnya masa kampanye pemilu. "Akh, ini biasa bae, di tempat lain juga begitu. "Kan lebih bermanfaat dari pada diturunkan polisi," katanya.Soal penurunan bendera parpol oleh masyarakat ini diakui pengurus parpol di Palembang. "Ya, kami tahu kok sebagian bendera kami diambil warga. Tapi tak apa, kan mereka senang, apalagi digunakan untuk keperluan di rumah. Jangan bae dibakar," kata seorang pengurus DPC PNBK Sumsel, M. Solikin, saat dihubungi detikcom melalui telepon."Malam ini mungkin kami mulai menurunkan bendera. Ya, tak ada pengaruhnya lagi dalam beberapa hari ini. Kami mungkin menggantinya dengan pemasangan pamplet," kata Solikin.Berdasarkan pemantauan detikcom, hari ini bendera parpol yang biasanya ramai terpajang di pinggir sejumlah jalan mulai berkurang. Umumnya bendera yang "menghilang" itu adalah bendera berukuran besar. Berbeda dengan Pemilu 1999, bahan dasar sebagian parpol dalam Pemilu 2004 menggunakan dasar yang lebih bagus yang mungkin sebagian masyarakat tidak mampu membelinya.Nah, pesta demokrasi ini kali memang kontradiktif. Di saat sebagian masyarakat sulit mencari makan, parpol peserta Pemilu 2004 justru menghambur-hamburkan uang untuk memproduksi alat peraga seperti bendera dan kaos.
(zal/)











































