Kampanye Terbuka, Pendapatan Sopir Angkutan Umum Turun
Selasa, 30 Mar 2004 19:30 WIB
- Sejumlah sopir angkutan umum mengeluhkan macetnya lalu lintas selama kampanye berlangsung. Pasalnya, hal itu berarti juga turunnya pendapatan mereka.Seperti diketahui, sejak musim kampanye, khususnya memasuki putaran terakhir dimana semua parpol melakukan kampanye terbuka, kemacetan lalu lintas semakin merajalela di Jakarta. Pengerahan massa yang pasti diikuti oleh arak-arakan kendaraan, menjadi sebab utama kemacetan.Sejumlah supir yang ditemui di Terminal Bus Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (30/3/2004) mengaku, tidak bisa mengejar nafkah secara maksimal. Terlebih mereka yang trayeknya melewati pusat-pusat pengumpulan massa parpol, seperti Senayan dan Bundaran HI."Seminggu ini pendapatan saya berkurang, terutama jika ada parpol besar yang berkampanye. Sehari biasanya saya bisa menempuh 4 hingga 5 rit, pada minggu ini paling banyak dua rit seharinya," kata Dadang, sopir Patas AC 50, jurusan Kampung Melayu-Kalideres.Hal yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan Margono (51), Sopir Patas AC 81 jurusan Kalideres-Depok. Menurutnya kemacetan akibat kampanye parpol terkadang membuatnya frustasi. "Bagaimana tidak, waktu tempuh yang biasanya 1 jam bisa menjadi 3 jam," tukas Margono.Keling kondektur Patas AC 02 jurusan Kalideres-Kampung Rambutan mengatakan, jika sudah macet total biasanya sopir akan memilih pulang ke pool. "Habis naik juga percuma cuma pegel doang. Lewat tol sama saja, macet juga," ungkap Keling.Bagi beberapa sopir masih merasa beruntung karena perusahaan tempatnya bekerja memiliki kebijakan menarik setoran per-ritnya. Sebab kondisi akan jauh lebih buruk bagi para sopir yang harus mengejar setoran sehari sekaligus. "Kalau per hari, bisa kedodoran kita nutupin setoran," kata Margono.
(djo/)











































