Hamzah: Soal Presiden Wanita, Ulama Harus Realistis
Selasa, 30 Mar 2004 12:00 WIB
- Wapres Hamzah Haz mengimbau para ulama untuk tidak bersikap kaku perihal presiden wanita. Jika presiden berikutnya nanti wanita lagi, ulama harus bersikap realistis menghadapinya."Pemimpin yang akan datang itu urusan nanti, namun bagaimana faktualnya nanti ulama juga harus realistis seperti yang terjadi sekarang ini."Hal tersebut disampaikan Wapres Hamzah Haz di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran Melangi, Ngaglik Sleman, Yogyakarta, Selasa (30/3/2004) menjawab pertanyaan wartawan seputar adanya permintaan dari kiai-kiai di berbagai pesantren agar presiden berikutnya bukan wanita.Permintaan dari kiai-kiai itu didasarkan pada alasan bahwa permintaan tersebut merupakan tradisi pesantren. "Bahwa laki-laki yang harus jadi pemimpin itu sesuai dengan apa yang ada dalam Al Qur'an," kata KH Fasihin Fadholi, salah seorang pengasuh di Ponpes Sunan Pandan Aran pada kesempatan yang sama.Hamzah pun tak membantah dalam Al Qur'an disebutkan seorang pemimpin adalah laki-laki. "Apa yang disampaikan oleh Pak Kiai tadi adalah memang prinsip dari ulama tapi itu kan faktor yang objektif, dalam keadaan yang force major, dan ulama tidak boleh bersikap rigid (kaku) soal itu," tegasnya.Lebih lanjut lagi, menurut Hamzah, saat ini ulama sudah bersikap realistis menanggapi masalah pemimpin wanita. "Dalam kenyataannya sekarang ini para ulama realistis dalam menyikapi soal presiden wanita. Itu sudah dibuktikan sekarang ini presidennya wanita, saya jadi wakilnya. Itu kan faktor yang objektif, bahkan dalam keadaan yang force major kenyataan itu terjadi," demikian Hamzah.
(dit/)











































