Ban mengakui misinya ini akan sangat sulit. "Saya akan meminta pembebasan semua tahanan politik, termasuk Aung San Suu Kyi," kata Ban kepada wartawan.
Dikatakannya, dirinya akan membahas langsung masalah Suu Kyi dengan pemimpin junta Myanmar, Jenderal Than Shwe. Ban juga akan bertemu dengan Perdana Menteri Myanmar Jenderal Thein Sein.
"Saya tahu, ini akan menjadi misi yang sangat sulit," tutur Ban seperti dilansir kantor berita AFP , Jumat (3/7/2009).
"Namun di saat bersamaan saya tahu bahwa untuk membawa perubahan di Myanmar, konsiliasi politik dan demokratisasi, kita perlu melakukan upaya terbaik kita," tandas Ban.
Dalam kunjungannya, Ban juga akan mendesak junta agar dibolehkan bertemu Suu Kyi. Jika Ban diizinkan bertemu peraih Nobel Perdamaian itu, maka Ban akan menjadi Sekjen PBB pertama yang melakukan hal tersebut sejak periode pertama penahanan Suu Kyi dimulai tahun 1989.
Suu Kyi tengah menghadapi dakwaan melanggar persyaratan tahanan rumahnya. Gara-garanya, seorang pria AS diam-diam masuk ke kediamannya dan tinggal di sana selama dua hari. Di persidangan Suu Kyi telah mengaku tak bersalah atas dakwaan tersebut. Namun wanita berusia 64 tahun itu terancam hukuman penjara 5 tahun jika terbukti bersalah.
Kasus itu menuai kecaman dari para pemimpin dunia dan kelompok HAM. Mereka menuding junta sengaja menggunakan kasus itu sebagai dalih untuk terus menahan Suu Kyi menjelang pemilihan umum yang dijadwalkan berlangsung tahun 2010 mendatang.
Dalam 19 tahun terakhir, Suu Kyi telah dikenai tahanan rumah selama lebih dari 13 tahun.
(ita/nrl)











































