Baya Bakari, anak perempuan berusia 14 tahun itu hingga kini merupakan satu-satunya yang selamat dalam musibah itu. Remaja Prancis itu berpegangan pada serpihan pesawat selama lebih dari 13 jam.
"Dia bukan perenang yang bagus tapi dia berpegangan pada sesuatu. Dia tidak tahu itu apa, tampaknya itu bagian dari pesawat," kata ayah Baya, Kassim kepada stasiun berita i-tele dan dilansir harian Sydney Morning Herald , Kamis (2/7/2009).
Dikatakan Kassim, putrinya menceritakan bahwa dirinya terlempar dari pesawat dan jatuh ke laut. Situasi di sekelilingnya gelap dan dia tak bisa melihat apapun.
"Ini benar-benar keajaiban. Dia gadis muda yang berani," kata Alain Joyandet, Menteri Kerjasama Internasional Prancis.
"Dia berpegangan pada serpihan pesawat dari jam 1.30 dini hari hingga 15.00," imbuhnya. "Dia benar-benar menunjukkan fisik yang sangat hebat dan kekuatan moral," tandas Joyandet.
Saat tragedi itu terjadi, Baya bersama ibunya di dalam pesawat. Namun sang ibu hingga kini belum diketahui nasibnya, kemungkinan meninggal. Pesawat naas tersebut mengangkut 153 orang yang terdiri dari 142 penumpang dan 11 awak, termasuk seorang WNI yang menjadi pramugari.
(ita/nrl)











































