Mereka sengaja masuk ke Indonesia untuk melanjutkan perjalanan ke Australia. Eksodus ini terjadi karena peperangan di negara mereka tak kunjung usai.
Cara mereka kabur dengan merusak pintu tahanan. Mereka kemudian menyambung sejumlah kain dan celana untuk membentuk sebuah tali yang akan digunakan untuk melompat pagar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lolosnya sejumlah tahanan ini dibenarkan Kepala Rudenim Pekanbaru, Yanijur. Pihaknya mengaku telah melaporkan kasus ini ke kepolisian setempat.
"Mereka ini melarikan diri karena tidak sabar untuk dipulangkan, padahal saat ini kita sedang berkoordinasi dengan United Nation High Commissioner for Refugees (UNHCR) untuk kepulangan mereka," kata Yanijur kepada wartawan, Minggu (28/6/2009).
Hingga saat ini, masih ada 64 tahanan warga Afganistan yang berada di Rudenim Pekanbaru. Mereka tampaknya enggan mengikuti jejak rekannya yang melarikan diri.
Menurut Ali Sayennoja, rencana pelarian ini sudah dirancang jauh-jauh hari. Rasa bosan menunggu kepulangan yang tidak jelas dari UNHCR menjadi salah satu penyebab kaburnya mereka. Padahal, tambah Ali, mereka sempat menasehati tindakan tersebut.
"Kita sudah nasihati, bagaimana pun persoalan ini pasti akan diurus oleh UNHCR, namun mereka tidak bersabar dan akhirnya mereka sepakat kabur," kata Ali.
(mok/mok)











































