Perkiraan jumlah penduduk lapar dunia tahun 2009 tersebut dikeluarkan FAO pada pekan ini dengan mendasarkan kepada analisa yang dikemukakan oleh U.S. Department of Agriculture (USDA) dan Economic Research Service (ERS), Atase Pertanian KBRI Roma Erizal Sodikin kepada detikcom Jumat malam atau Sabtu (27/6/2009) WIB.
Kedua lembaga tersebut melakukan studi tentang pengaruh krisis ekonomi global tahun ini terhadap persentasi jumlah penduduk yang kelaparan di berbagai wilayah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Data yang dikemukakan FAO menunjukkan bahwa pada kurun waktu 1995–1997 terdapat 825 juta jumlah penduduk dunia lapar, tahun 2000–2002 jumlah ini mengalami peningkatan menjadi 857 juta jiwa, sementara kurun waktu 2004–2006 jumlah ini meningkat lagi menjadi 873 juta jiwa.
Dari data ini maka tentu saja salah satu target dari Millenium Development Goals, yang lebih dikenal dengan MDG’s, yang menargetkan akan mengurangi separuh jumlah penduduk lapar dunia tahun 2015 akan sangat sulit dicapai bahkan dapat dikatakan mustahil tercapai.
Fenomena jumlah penduduk lapar yang justru terus meningkat ini menyebabkan ketahanan pangan menjadi tema sentral yang dibicarakan dan didiskusikan oleh komunitas dunia baik negara, organisasi internasional, maupun institusi perbankan serta LSM. Isu ini juga akan menjadi salah satu tema yang akan dibahas dalam pertemuan G8 di L’Aquila, Italia, bulan Juli ini.
FAO sendiri sejak tahun 1974 telah membentuk komite yang khusus menangani soal pangan ini yang disebut dengan Committee on Food Security (CFS).
Dengan kenyataan semakin bertambah jumlah penduduk dunia yang lapar, maka saat sekarang keberadaan CFS dikaji ulang dan didiskusikan secara intensif oleh utusan negara anggota FAO untuk memformulasikan kembali peranan dan strategi baru CFS.
Harapannya pada pertemuan CFS ke 35 pertengahan Oktober 2009 nanti akan dihasilkan CFS yang lebih berperan dan berdaya guna untuk menciptakan dan menjamin ketahanan pangan di seluruh dunia.
(es/es)











































