Dari Dapur Penjahat: Semua Gembok Bisa Dijebol

- detikNews
Jumat, 26 Jun 2009 13:32 WIB
Jakarta - Teknologi gembok terus berkembang. Dari yang kunci biasa, ulir hingga menggunakan nomor sandi. Tetapi bagi para penjahat, tidak ada gembok yang tidak bisa dijebol.

"Semuanya bisa diakali," kata seorang perampok, Sukirno (39), kepada detikcom, di tahanan Polsek Cilandak, Jakarta Selatan, Jumat (26/6/2009).

Perampok yang telah malang melintang selama lebih dari 15 tahun ini
membeberkan beberapa trik membongkar gembok. Untuk gembok kunci biasa, menggunakan kunci pipih.

Untuk gembok kunci ulir, digunakan kunci latter L yang telah dipipihkan ujungnya. Cukup dimasukan, diputar dan terbukalah gembok dalam waktu 6 detik. Alhasil, korban kadang menemui gembok terbuka tanpa rusak sedikit pun.

"Kalau gembok kunci ulir kan ada 8 ukuran. Dari yang terkecil hingga yang terbesar. Ya kami bikin 8 ukuran," ujarnya.

Jika perampok menemui gembok yang menggunakan nomor sandi, penjahat langsung mengeluarkan las kecil. Ukurannya tidak lebih dari handphone. Dalam waktu kurang 3 menit, alat tersebut mengeluarkan api sejenis gas dan mirip las
lalu gembok pun sukses terpatahkan.

"Kami beroperai berenam. 2 Orang bertugas membongkar gembok dan pintu. 2 menggasak dan 2 berjaga-jaga," kata pria yang tinggal di Cilincing, Jakarta Utara ini.

Jika semua gembok gerbang terbuka, tinggal tugas dia menjebol pintu gedung.
Tetapi jika masih terdapat gembok dalam ukuran sangat besar, sebuah kunci
besar sepanjang 50 cm pun dikeluarkan. Dalam waktu  detik, gembok seukuran jempol orang dewasa pun putus.

"Dilanjut membongkar pintu rumah. Tinggal dicongkel linggis. Tak mencapai 1 menit," kata dia.

Meski lihai membongkar berbagai jenis gembok, tapi kawanannya bukan kelompok yang melukai korban. Jenis operasi ini dikenal dengan istilah operasi semut.

"Ada semacam kode etik sesama penjahat yatu tak boleh mengambil jenis bagian penjahat lainnya. Kalau copet ya copet aja. Kalau rampok bersenpi yang
bersenpi. Nah kalau kita operasi semut ya gak boleh melukai," ujar Sukirno yang wajahnya tampak telah babak belur itu.

Dalam aksinya, mereka tak perlu observasi. Cukup melihat situasi sepi,
langsung digasak. "Kalau ketahuan, langsung kabur. 1 orang yang jaga di
ujung jalan me-misscall handphone yang beroperasi. Cukup 10 hingga 15 menit untuk satu target," pungkasnya.



(asp/aan)