Demikian disampaikan Manejer Humas PT PLN Wilayah Sumbar Asril Kalis kepada detikcom melalui telepon, Kamis (25/6/2009). Menurutnya, hingga saat ini tiga PLTA itu, masing-masing PLTA Maninjau, PLTA Singkarak dan PLTA Koto Panjang terpaksa hanya beroperasi 50-60 persen saja dari kemampuan maksimalnya karena menurunnya debit air untuk menunjang operasional pembangkit tersebut.
"Kita terpaksa membatasi operasi pembangkit untuk menghemat dan menjaga permukaan air danau tetap pada batas aman. Bila 3 PLTA itu tetap dipaksakan beroperasi maksimal, secara otomatis permukaan air danau akan menurun drastis sehingga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif terhadap lingkungan,” katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awal Juni lalu, permukaan air danau yang tercatat 361,67 cm sementara ambang batas normalnya adalah 360,75 cm," ujarnya.
Lebih lanjut Asril mengatakan, rata-rata kebutuhan listrik di Sumbar pada beban puncak (pukul 18.00-21.00 WIB) berkisar antara 340-370 MW. Sementara, empat pembangkit di Sumbar hanya mampu berproduksi sekitar 200 MW-250 MW saja. Defisit listrik antara 100-150 MW itu, menurutnya, dibantu interkoneksi Sumatera Selatan yang memasok 200 MW per hari untuk Sumbar, Riau dan Jambi.
"Meski sudah ada bantuan daya dari Sumsel tapi tetap saja belum memenuhi kebutuhan listrik di Sumbar. Kita berharap PLTU Bungus Teluk Kabung cepat terealisasi sehingga persoalan kekurangan pasokan listrik di Sumbar dapat diatasi," tukasnya.
(yon/djo)











































