"Hasil penelitian menunjukkan, kandungan gas semburan didominasi oleh gas CO2 yang diikuti H2S dan SO2. Ketiga gas tersebut merupakan ciri dari gas-gas vulkanik yang tidak berbahaya", ujar Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api ESDM, M Hendrasto dalam situs ESDM, Selasa (23/6/2009).
Menurut Hendrasto, penelitian menggunakan metode Giggenbach dan detektor Multigas Multiwarm.
Hendrasto menjelaskan, meski terdapat kandungan gas metana dalam semburan, namun hal itu tidak berbahaya karena persentasenya sangat kecil. Selain itu, tekanan gas yang keluar pada umumnya bertekanan rendah.
Gas metana akan mudah menyala jika kandungannya mencapai di atas 5 persen volume, sedangkan kandungan gas metana pada pusat semburan lumpur di Walikukun kandungannya hanya berkisar antara 0,6-1 persen volume.
"Gas metana akan mudah menyala jika kandungannya mencapai di atas 5 persen volume. Sedangkan kandungan gas metana pada pusat semburan lumpur di Walikukun kandungannya hanya berkisar antara 0,6-1 persen volume," ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Hendrasto, masyarakat diimbau untuk tidak menyalakan api serta mendekati lokasi semburan untuk menghindari terjadinya kebakaran dan jatuhnya korban jiwa akibat menghirup gas yang keluar.
"Masyarakat juga disarankan menggunakan pipanisasi untuk mendapatkan air bersih dan tidak membuat sumur bor di wilayah tersebut," tandasnya.
(nik/iy)











































