Salah seorang warga, Ny Laeli Sapuro, saat ditemui detikcom di lokasi semburan, Minggu (21/6/2009) menceritakan semburan lumpur dan gas berbau belerang itu terjadi pertama kali pada pukul 04.00 WIB Sabtu kemarin. Lumpur berpasir ini menyembur sangat tinggi.
"Tinggi semburan bisa lebih dari 15 meter. Dari pohon yang paling tinggi itu, semburannya masih di atasnya itu lagi," kata Laeli sambil menunjuk sebuah pohon yang tingginya sekitar 10 meter.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, semburan lumpur itu berasal dari lubang yang dibor untuk mencari air bersih. "Ada dua lubang yang sudah dibor. Satu lubang mencapai kedalaman 100 meter. Sedangkan satu lubang lagi berkedalaman 70 meter. Nah, semburan lumpur itu berasal dari lubang yang berkedalaman 70 meter itu," ujar dia.
Di kampung Laeli, warga sangat sulit untuk mendapatkan air bersih. Untuk memperoleh air bersih, maka warga harus mencari sumber air hingga kedalaman yang sangat dalam. Bila hanya menggali sumur puluhan meter, maka air yang dihasilkan berasa asin.
"Rencananya akan dibuat sumber air bersih untuk warga," kata Ny Laeli. Sumber air bersih itu juga akan digunakan untuk Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) yang sedang dibangun di samping lokasi semburan lumpur itu.
Kini, pembangunan Puskesdes pun terganggu karena semburan lumpur tersebut. Bahkan, gedung yang sedang dibangun itu juga makin tidak karuan.
(asy/nrl)











































