Meski diketahui bahwa akhir-akhir ini hubungan antara Indonesia dengan Malaysia sedang kurang 'mesra', tapi kita tidak bisa menampik kenyataan bahwa tetangga kita tersebut masih memiliki pesona yang menyilaukan para pekerja Indonesia.
Pemberitaan media massa yang banyak menyoroti kehidupan para TKI di Malaysia, khususnya yang mengalami nasib tragis di sana, sebut saja misalnya Siti Hajar, Eva Murni Hutabarat, dan sederet nama lainnya yang menjadi korban penganiayaan sang majikan, ternyata tidak menyurutkan tekad para TKI untuk tetap bekerja di sana.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti diakui seorang TKI yang berada dalam satu pesawat dengan saya, Fransiska Arie, wartawan detikcom. Wanita yang berasal dari Bandung ini mengaku, desakan ekonomi memaksanya untuk mengadu nasib di Malaysia, dan meninggalkan suami serta dua orang anaknya.
Wanita ini tampak begitu bersemangat, meski ia belum pernah melihat seperti apa negara yang ia tuju. Tanpa ada koordinator yang memandu perjalanan, mereka dengan antusias berangkat dalam satu rombongan, yang semuanya perempuan. Keluguan tampak dalam wajah-wajah mereka yang sumringah penuh harap.
"Kursiku yang sebelah mana ya, Mbak? Ini bagaimana cara pasang sabuk pengaman? Saya baru sekali ini naik pesawat, nggak tahu caranya," tanya beberapa dari mereka kepada saya, di sela perjalanan pesawat ke Malaysia.
Ketika ditanya, di mana koordinatornya, mereka bilang tidak ada. Mereka hanya berbekal keyakinan bahwa di Malaysia nanti akan ada pihak yang bertanggung jawab terhadap mereka.
Kebingungan kembali muncul tatkala penumpang pesawat diwajibkan mengisi formulir kedatangan. "Aduh, ini apa ini, kok bahasa Inggris. Ini artinya apa? Mengisinya bagaimana?"
Akhirnya saya pun menjadi 'koordinator dadakan', karena entah kenapa pramugari sepertinya tidak tanggap dengan situasi yang dialami para TKI. Atau karena kejadian seperti ini sudah terlalu sering terjadi di dalam pesawat, sehingga menjadi sesuatu yang wajar dan tidak perlu ditanggapi, entahlah.
Alhasil, saya harus memberi informasi kepada mereka, tentang apa yang mesti mereka cantumkan dalam formulir tersebut. Tak puas dengan informasi lisan, akhirnya mereka meminjam formulir milik saya, dan mengedarkan ke teman-temannya yang lain.
Dalam hati saya bertanya, berapa jumlah TKI yang pergi ke Malaysia setiap harinya? Apakah mereka setipe dengan para TKI yang satu penerbangan dengan saya ini? Jika iya, sungguh kasihan. Bagaimana jika mereka dibodohi?
Yang membuat saya tak habis pikir, kenapa tidak ada satu pun orang dari perusahaan yang memberangkatkan mereka, menemani. Bagaimana jika di jalan terjadi apa-apa, siapa yang bertanggung jawab dengan nasib mereka. Kenapa sebelum diberangkatkan, tidak dibuat simulasi pengisian formulir dan tetek bengek yang lain, supaya para TKI bisa belajar untuk mengisi data diri, sehingga minimal mereka tidak kebingungan.
Para TKI ini menuturkan bahwa mereka akan dikontrak kerja selama dua tahun di Malaysia. Harapannya, dalam waktu dua tahun tersebut, mereka akan mampu memenuhi pundi-pundi uang. Selama tiga bulan pertama, mereka dijanjikan pelatihan keterampilan.
Selintas terbersit pikiran negatif dalam diri saya. Bagaimana jika mereka ditelantarkan atau justru disiksa majikannya? Sempat muncul juga pemikiran dalam diri saya, jangan-jangan para TKI kita disiksa majikan karena kurang cakap dalam bekerja, lantaran minim keterampilan dan kemampuan berbahasa, sehingga majikannya jengkel dan meledak emosinya. Namun, segera saya tepiskan pikiran tersebut.
Hanya harapan yang bisa saya lambungkan, semoga para TKI akan mendapat perlakuan yang baik dari sang majikan dan mampu memenuhi mimpinya untuk mengubah tangis keluarga menjadi tawa. Semoga para TKI yang hendak diberangkatkan telah dibekali dengan keterampilan yang memadai, sehingga memiliki nilai jual dan tidak mudah dibodohi.
Semoga tak ada lagi cerita-cerita nestapa tentang TKI yang disiksa majikan di negeri tetangga. Selamat berjuang Pahlawan Devisa!
(faw/mok)











































