Hal tersebut ia sampaikan saat berpidato pada MoU Fasilitas Kemitraan Peternakan antara Pemerintah Sumsel dengan perusahaan perkebunan di grand ballrom Aryaduta Hotel, Jalan POM IX, Palembang, Kamis (18/06/2009).
Alex juga berpidato dengan nada suara yang sedikit kencang. Menurut Alex, pemerintah Sumsel tidak lagi bicara soal sekolah dan berobat gratis karena kedua program ini sudah dijalankan. Sumsel kini sudah bicara soal swasembada daging yang tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan 12.000 ekor setiap tahun bahkan menjadi provinsi yang mampu menjual ke pasar luar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dijelaskan Alex, pemerintah tidak main-main untuk mewujudkan Sumsel sebagai swasembada daging karena sudah dianggarkan dana Rp 3,4 miliar untuk membeli 540 ekor sapi pedaging, bahkan Departemen Peternakan sudah menyiapkan dana bantuan Rp 10 miliar untuk Sumsel. Belum lagi fasilitas pinjaman dana dari Perbankan. Itu artinya, tidak ada alasan lagi untuk tidak melaksanakan program ini.
Menurutnya, luas lahan perkebunan sawit di Sumsel mencapai 600.000 hektare. Jika 100.000 haktare saja dijadikan kawasan kemitraan perternakan dengan rincian 1 hektare 2 ekor sapi, maka ada 200.000 ekor sapi yang dapat dikembangkan.
Alex Noerdin memberikan waktu dua bulan bagi perusahaan sawit yang memiliki usia tanam di atas tujuh tahun untuk menjadi mitra pertenakan. "Kalau masih ada yang tidak mau, kita akan buat Perda untuk memaksa mereka," kata Alex Noerdin yang manyebutkan Bengkulu yang kecil saja sudah mampu dan kini telah memiliki 100.000 ekor sapi.
Untuk pejabat Dinas Peternakan, Alex memberikan waktu dua tahun sebagai ukuran keberhasilan. "Kalau dua tahun ini, Sumsel masih membeli sapi dari luar, saya ganti pejabatnya. Kalau pangkat dan golongannya tidak mencukupi, asal ia mampu bekerja bisa menjadi kepala dinas," kata Alex Noerdin.
(tw/mad)











































